Skip to main content

Mengenang satu dasawarsa gempa Jogja dan cerita kita


Pagi itu, saya sedang ada di Selo, bukan di Jogja. Pagi itu, posisi saya sedang jongkok di salah satu tempat paling sakral di rumah kami, yaitu WC, ketika tiba-tiba genteng rumah saya seperti sedang diadu. Bunyinya kretek kretek kretek...dan semakin keras, lalu rumah mulai bergoyang.

Saya dan tetangga berhamburan keluar rumah. Tentu saja setelah melakukan thaharah sesuai prosedur, tidak ada yang kurang. Kami mulai melihat ke arah timur, dimana Gunung Merapi pagi itu terlihat tegang juga. Memang sudah berhari-hari Merapi mengerang kesakitan. Sesekali menumpahkan lahar panas yang terlihat merah ndledek dari puncaknya setiap malam habis Isya. Jelas sekali dari pintu masjid Al-Fajar depan rumah. Dan guncangan itu, awalnya kami kirakan asalnya, dan musababnya ya dari sang Merapi. Tapi ternyata bukan.

Saya lalu menelpon teman kantor saya, Ari Ikrar, yang posisinya di Jogja. Saya tanya kondisi Jogja. Saya tanya kondisi kampus. Dia bilang Jogja porak poranda, terutama bagian selatan, Bantul dan sekitarnya. Saya kembali menanyakan kondisi kampus, dia bilang dia akan ke kampus dan segera akan kasih kabar. Saya juga telp mbak Riefna, sahabat saya, saya tanya bagaimana keadaannya. Dia sempat cerita kalau bahkan dia lari tak sempat menyambar kerudung. Semua begitu mengerikan. Lalu saya telpon Dosen satu Lab, bu Erlina, dan beliau bilang ada di jalan, tak tahu harus kemana, dan takut kembali pulang. Lalu saya pun menawarkan rumah saya untuk mereka mengungsi. Ibu dan Bapak bu Erlina, suaminya dan kedua anaknya lalu tiba di Muntilan, depan Gereja untuk saya jemput saya bawa ke Selo.

Hari berikutnya serasa tak ada menit tanpa melihat televisi untuk mengetahui kondisi Jogja. Saya pun menyempatkan diri ke kampus, melihat beberapa bagian kampus UGM yang retak-retak meskipun tergolong bangunan baru. Saya pun dibuat melongo melihat kampus UIN yang belum selesei di cat itu ambruk bruk. Sungguh luar biasa.

Lalu hari-hari berlalu penuh pilu. Berita jumlah korban meninggal dan terluka seperti laporan harga-harga kubis dan bawang, ada di setiap berita. Alhamdulillah tak satupun sahabat saya pun kenalan saya yang naas terkena bencana itu. Semuanya selamat.

Saya lalu ikut bersama adek-adek BEM Fakultas Pertanian UGM mendirikan dapur darurat. Adek-adek mahasiswa itu yang dengan bahagia dan penuh semangat belanja, lalu menyulap semua bahan makanan yang susah payah mereka dapatkan karena pasar-pasar tutup, menjadi sebungkus nasi plus lauk dan sayur. Saya biasanya datang setelah menyeleseikan pekerjaan kantor. Lengan baju saya gulung, lalu saya mulai ikut mengaduk, membumbui dan bahkan kadang daden geni nyebuli luweng dadakan yang dipakai buat masak. Biasanya, jam 5 semua sudah kukutan. Makan siang dan  makan malam sudah dipasokkan ke beberapa tempat pengungsian. Saatnya pulang. Begitu seingat saya sampai sepekan. Lalu dapur umum itu tutup, dan saya merasa sangat kehilangan. Sama halnya dengan ponakan saya yang juga kehilangan teman bermain, anak-anak bu Erlina. Mereka pulang ke rumah setelah sepekan menginap di rumah kami. Semua sudah seperti keluarga.

Hari-hari berganti. Saya lupa berapa bulan setelahnya, di suatu sore sehabis saya bertengkar dengan kakak saya, dan waktu itu mata saya masih bengkak karena menangis sepanjang jalan Muntilan-Jogja sambil bawa bungkusan dagangan baju yang mau dikirim ke Batam, saya disms senior IMM waktu di Bogor, Mas Supre. Intinya beliau sedang di Jogja dan kalau bisa ngajakin ketemuan. Akhirnya kami sepakat ketemu di Malioboro. Saya bilang saya tunggu di Al-Fath sekalian sholat maghrib di sana.

Ya, sore itu saya akhirnya berkenalan dengan Arif Nurkholis, senior di MDMC. Jones kece ini waktu itu masih punya gebetan eh calon istri eh ya begitulah, yang ternyata dia yang jadi gebetannya adalah juga sahabat saya. Oh dunia....sempit sekali kamu. Meski itu saya tahunya belakangan, tapi cerita kisah cinta yang tak berakhir indah itu selalu bisa jadi bahan bullian sepanjang masa. Betul kan?? hahaha. Eh tapi rupanya, pagi ini statusnya sudah mulai penting. "From disaster with love". Jal keren ra??

Sepanjang pertemuan yang dilakukan di McD Malioboro Mall itu, saya beberapa kali memangkap pembicaraan antara Mas Supre dan Om Arip (saya panggil Om untuk membahasakan Nasywa) membicarakan "seseorang" yang gagal datang. Di akhir pertemuan, saya minta Om Arip untuk memasukkan saya di group yahoo JIMMPTN. Hallo...apa kabar group ini???
Lalu dari Om Arief saya bisa kenal Dodong, Basyir dan beberapa orang lain yang saya lupa namanya karena sudah lama tidak berinteraksi. Mereka-mereka ini adalah para punggawa PKO (People Kampong Organize), sebuah lembaga di bawah Muhammadiyah yang dibentuk karena ada gempa Jogja dan bekerjasama dengan AusAid. Dari mereka pula saya bisa keliling Bambang Lipuro dan sekitarnya untuk menemani tamu dari AusAid yang ingin melihat implementasi dana yang mereka kucurkan. Yup..saya dan Mbak Tyas, temen kantor di FPN UGM, diminta jadi interpreter. Di sini ada sebuah petikan percapakan yang belum saya koar-koarkan. "Aku suka cowok seperti Mas Arif itu Ni, dia itu begitu peduli dengan orang lain". Begitu mbak Tyas bilang ke saya sehari setelah acara nemenin tamu Australia itu selesei. Coba saya dulu bilangin ke kamu yo, Om Arip, mungkin ceritanya akan berbelok lain.

Singkat cerita...
Di suatu siang yang terik, ada sebuah pesan YM masuk.
"Assalaamualaikum Ukhti,..sudah sholat dhuhur?".
Hellow....makhluk mana ini yang tiba-tiba nanyain gw udah sholat belum? hahaha.

Ternyata, dia yang  picture profilenya pakai jaket kuning dengan lesung pipit dan senyum manis itu adalah "seseorang" yang gagal datang sore sekian hari lalu. Si manis ini, kemudian setiap hari (kalau ga salah), sekali atau dua kali selalu menyapa di YM. Sekedar mengucap Assalaamualaikum atau bertanya sudah Sholat belum. Xixixixi...

Lalu, tanpa menunggu hitungan bulan, tiba-tiba "seseorang" yang (dulu) gagal datang itu bertanya. "Boleh main ke kosan Ukhti ga?" lalu, sore yang dijanjikan itupun tiba. Saya sengaja pura-pura ngangkatin jemuran di lantai atas rumah Bapak di Pogung. Saya melihat ada laki-laki mengendarai motor bebek butut datang. Duh, itu motor Honda yang bahkan untuk menyetandarkan samping saja tidak bisa karena sudah pasti ambruk, mulai parkir di depan rumah. Lalu bapak yang ada di luar warung bertanya "Bade kepanggeh sinten Mas?". Sebentar kemudian, Bapak sudah mencariku ke dalam. Aku yang sebenarnya sudah tahu tetap bilang "Nggih" saat Bapak bilang "Nduk, kae ono sik golekki"

Sore itu aku merasa kembali masuk dalam geromboloan roh Kudus. Setelah selama di Bogor dikerubungi Mas Supre, Mas Topik, Nia dan Rifa yang orang Kudus, di Jogja ketemu juga sama si "seseorang" itu yang juga orang Kudus. Walhasil, obrolan kami tak jauh-jauh dari ngomongin Nia, Rifa, dkk.

Selama kami ngobrol di luar sampai menjelang Maghrib itu, di dalam rumah sudah mulai terjadi kasak kusuk. Ibuk, Bapak, Mb Santi dan mb Atun mulai memasang strategi membully hahaha. Dan lalu, pertanyaan tentang siapa dia? siapa namanya? asalnya darimana? kenal dimana? kerja apa? Dosen kok motore memprihatinkan? *hahaha... mulai diajukan sesaat setelah adzan maghrib berkumandang. Hanya peringatan Bapak untuk segera mandi dan sholatlah yang membubarkan kami ngrumpi sore itu.

Oh ya...Mereka yang banyak bertanya itu adalah pemilik kosan. Tapi ya begitulah hidup. Saya selalu bisa bertemu dengan keluarga baru di manapun. Bapak, Ibuk, Mba Santi dan Mba Atun sudah seperti keluarga sendiri.

Saya lupa tepatnya itu bulan apa, sepertinya Agustus 2006. Tapi, cerita berlanjut sampai bulan Ramadhan yg kira-kira jatuh di bulan September, sebulan setelahnya. "Seseorang" yang (dulu) gagal datang itu meminta izin untuk datang ke rumah, ketemu Mae dan keluarga yang lain.

Saya ingat sekali, itu bulan puasa, kami memulai perjalanan dari selatan ke utara, Jogja ke Muntilan. Motor saya, si Astrea Impressa 1996 itu benar-benar harus menurunkan kekuatan ngebutnya karena di belakang, iya di belakang jauh sana, ada Honda Astrea Star yang tertatih-tatih mengejar kami. Kalau dibuat ngebut takut macet, kalau terus-terusan begini lalu kapan sampainya. *Hahaha. Well yeah akhirnya sampai juga di Selo, dengan selamat sentausa hanya sedikit gembrobyos.

Di rumah Selo, tentu sudah ada Mb Iti, Mas Din, Mas Heri dan Mbak Pur plus anak-anak TPA yang ikut takjilan sore itu. Ramee...tapi itu hal yang biasa. Dan "seseorang" yang (dulu) gagal datang itu pun memperkenalkan diri. Namanya Fathurrohman. Aslinya Kudus. *jreng jreng

Tapi, tak ada yang tahu kalau Mae dan Pak Muslih, guruku ngaji sejak kecil plus tetangga kami plus salah satu imam masjid Al-Fajar, sudah menyiapkan uji nyali untuk "seseorang" bernama Fathurrohman itu. Habis maghrib, seperti biasa Pak Muslih yang kalau ga dikasi es jadi Mulih itu, mendatangi "seseorang" bernama Fathurrohman. Basa basi sejenenak dan tawaran uji nyali disampaikan. "Nak mas, sekalian ini monggo nanti ngisi kultum sebelum tarawih nggih, pas ga ada yang ngisi" padahal itu aslinya jatah Pak Muslih ngisi *Hahaha

Untuk ukuran seorang yang sejak kecil sekolah di madrasah diniah dari MI sampai Aliyah Muhammadiyah, urusan kultum itu remeh temeh. Aku tahu itu. Tapi entah kenapa, aku yang malam itu sedang datang bulan tak berhenti deg-degan. Takut dia grogi atau bikin salah lalu dianggap gagal oleh sang juri, Mae dan Pak Muslih. Dari mulai dia membuka dengan ucapan salam sampai mengakhiri juga dengan salam, kultum yang mungkin kurang dari 10 menit itu terasa lama. Nafasku pun selama itu terasa berat. Tanganku dingin berkeringat. Jantung berdetak lebih kencang seperti genderang perang. Fyuuh...siapa yang uji nyali siapa yang nervous.

Dan tahukah kamu....di pojokan sana. Di barisan depan shaf wanita, seorang Ibu dengan mukena langsungan dan sajadah merah marunnya, merasakan hal yang sama. Dia yang punya ide ini, dia juga yang grogi. "aku mau deg-degan e" pengakuannya sesaat sebelum kami tidur malam itu diselingi derai tawa bahagia.

Bulan Syawal pun datang. Di hari ke delapan (kalau tidak salah), Mas Fathur dan keluarga besarnya datang. Bapak, ibuk, Mas Mbak dan adek-adek lengkap datang dengan tujuan satu. Nembung. Dari keluarga saya tentu ada keluarga inti, pak lik bulik, pak dhe bu dhe, Nduk Eni yang juga ikut datang, plus Agus, putranya pak Bud tetangga saya yang juga adiknya pak Muslih dan juga imam masjid khusus dikontrak untuk jadi juru laden dan tukan foto. Oh ya..tentu saja pak Muslih datang dan dia yang tertawa paling bahagia.

Pak Munawar, Pak Muslih dan Pak Budiman adalah 3 kakak beradik yang dari mereka saya belajar ilmu agama dari mulai a ba ta sampai nahwu shorof. Mereka juga yang menjadi peran pengganti Pae untuk saya. Tempat saya bertanya, minta ditambalke ban motornya, dan semua hal yang tak bisa disebutkan satu-satu. Masih ingat dulu waktu masih SD kelas 2 atau 3, diajak pak Budiman lihat pasar malam di sawitan. Naik motor cengpat alias boncengan papat. Pak Bud di depan, lalu Agus, saya dan Anwar di belakang saya. Berangkat habis asyar pulang sebelum maghrib. Kalau ga diajak pak Bud, saya ga bakalan sampai sawitan lihat pasar malam. Lha sopo sik meh ngejak??

Saat acara lamaran di bulan Syawal itu, kedua keluarga bersepakat untuk meresmikan ikatan pernikahan antara saya dan Mas Fatur di bulan Desember, sekitar 60 hari persis setelah lamaran. Dan lalu kesibukan pun dimulai. Daftar-daftar ke KUA, ngadain rapat keluarga inti, keluarga besar sampai rapat yang melibatkan banyak orang. Semua dapat jatah pekerjaan. Siapa menyanggupi menyiapkan apa. Dan saya masih juga sibuk kuliah dan kerja sambil sesekali nyolong waktu keluar nyari apa-apa yang diperlukan. Uang tabungan saya habis buat ngeramik kamar, beli kain buat baju pengantin, dan lain-lain. Zaman itu Siti Nurhaliza baru aja nikah, dan saya jatuh cinta dengan baju akad nikah yang dia pakai. Dengan modal tak sebesar Mbak Siti saya membeli kain ditemani mbak Atun di jalan Solo. Dan saya jatuh cinta dengan kain broklat yang harganya menguras tabungan. Meski mba Atun bilang beli yang lebih murah aja, tapi saya keukeuh mau yang itu. Dan jadilah beli itu. Saya serahkan kain itu ke Mb Imung, penjahit langganan saya di Samirono untuk dibuatkan semirip mungkin seperti yang dipakai Siti Nurhaliza *hehehe

Saya memutuskan untuk tidak menyebarkan undangan selembar pun. Kenapa? Karena Mae takut tamunya akan membludak plus juga ga ada dana untuk sekedar cetak undangan. Saya cuma diajak keliling ke rumah sesepuh-sesepuh untuk minta doa restu dan memohon kehadiran mereka untuk memberikan doa restu di hari pernikahan. Tapi ya itulah. Mae sudah lama tidak punya gawe. Maka ketika Mae libur tidak ke pasar, itu seisi pasar datang semua ke rumah, tamu mulai datang mbanyu mili dari H -4. Saya harus menebar senyum dari pagi sampai malam selama 5 hari. Makan saja disambi-samba. Baru sak emplokan sudah dipanggil karena ada tamu. Di H -1 itu puncak segala lelah. Curhat datang dari panitia sana sini, kurang ini kurang ini, semua rencana kalau tidak dikontrol bisa buyar karena ide-ide bermunculan terlalu liar di hari terakhir. Ingat sekali, malam-malam jam 11 saya masih menata souvenir di keranjang ketika Mas Heri masuk ke kamar tengah cuma mau bilang "Kesel tenan yo Ar? Mumet aku akeh sik do ngomong ngene lah ngono lah, ah luweh, yo turu yo!" hahahaha

Di kampus pun saya tidak menyebar undangan. Saya cuma minta tolong ke Pak Ngadiman, Laboran Lab sebelah untuk ngatur-aturi para dosen dan karyawan Jurusan ngrawuhi pernikahan saya. Sempet mb Riefna bilang kalau itu kurang sopan dan itu membuat saya meneteskan air mata, lari ke kamar mandi, lalu kabur pulang ungkep-ungkep di kasur. Sampai mb Riefna nyusul ke kosan dan menenangkan saya.

Hari H pun datang. Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah eh pink. Yup...akhirnya saya pasrah dicoreng-coreng muka saya pakai segala pensil warna. Yang me-makeup adek sepupu, Dek Ida, dia sedang hamil muda waktu itu. Budhe yang sebenarnya penata rias pengantin memasrahkan muka saya pada sepupu. Mungkin budhe yang saya panggik Bue itu, tak sanggup mendandani 'anaknya' sendiri.

Ijab qobul pagi itu diawali dengan kata permohonan dari saya, untuk Mas Heri, yang hari itu menjadi wali nikah saya. Tak ada Pae, maka  Mas Heri sebagai satu-satunya anak laki-laki menjadi wali saya, pun kalau tidak salah wali Mbak Siti sekian puluh tahun lalu. Saya mengucapkan kalimat yang mendadak saya rangkai itu, dalam bahasa jawa, dengan terbata menahan tangis. Saya ingat pesan Dek Ida agar menaham tangis sebisa mungkin. Kalaupunm harus menangis, air matanya ditutul bukan dilap hahaha. Tapi tetep aja...saya ga bisa menahan tangis, pun setelah selesei aqad nikah itu, saya masih sempat berkeliling sampai dapur, salaman dengan semua orang. Yah, semua memangis haru dan bahagia. Bagi Mae, Bue, Mbak Iti, Mbak Lastri dan Mbak Sum tetangga kami, plus semua bulik paklik, saya adalah gadis kecil yang sulu dikasihani karena  ditinggal mati Bapaknya di usia yang belum genap 4 tahun. Dan sekarang, anak kecil itu menikah.

Acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana di pelataran rumah pak Dhe lurah, sebelah rumah. Meja, kusri dan tenda disponsori oleh Samiguno (big thanks buat Endah dan Mas Bowo yang sudah kasih harga diskon xixixixi). Tamu yang datang banyak. Sampai semua yang membantu kerapian parkir mobil kebingungan nyari tempat parkir lain. Jalan Selomerah dari timur ke barat sudah penuh. Semua halaman luas yang ada sudah dipake. Ga kebayang kalau nyebar undangan, mungkin harus menggelar resepsi di lapangan Garonan hahaha ke PD an.

Well yeah...
Yang paling berkesan adalah ketika teman-teman PKO (sekarang MDMC) banyak yang datang. Bahkan Pak Budi pun datang. Mereka adalah orang-orang yang sengaja atau tidak menjadi "jalaran" bertemunya saya dengan Abah nya Nasywa. Mereka yang sampai sekarang selalu saya anggap sebagai keluarga meskipun sudah lama tak berjumpa. Mereka, yang juga dulu dipertemukan karena gempa Jogja, 10 tahun lalu, resmi menyerahkan "Mainan edukatif yang atraktif dan responsif" kepada saya *hihihihi

Buat yangpunya ide awal memperkenalkan saya dan "seseorang" yang (dulu) gagal datang, Hahahaha.... Maafkan yah. Masih ingat betul ada yang sms bilang "Kalian tega, bermain di belakang sutradara!!"

Selalu ada cerita-cerita seru yang tak terduga dibalik sebuah bencana. Dan iya...kami bisa ada di sini karena disponsori oleh PKO, AUSAID, dan gempa Jogja 10 tahun lalu.










Comments

  1. "Mainan edukatif yang atraktif dan responsif".... hihihihiihi... ^_^

    ReplyDelete
  2. mainan edukatifnya sskarang makin responsif dan atraktif kan mbak....? ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk masih dong...batrenya long live haha

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebuah testimoni ~ Vaseline Lip Therapy

Akhirnya...ku menemukan mu... 

Bulan Maret dan April lalu menjadi bulan yang sedikit kurang nyaman. Apa pasal? Bibir saya kering dan gatal sampe pecah berdarah. Kirain waktu itu karena sempet nyoba lagi pake pasta gigi yang semriwing buat orang dewasa. Secara selama ini saya selalu pake pasta gigi yang sama kayak yang dipake Nasywa. Sudah dicoba berbagai merk pasta gigi yang semriwing hasilnya semua membuat bibir saya kasar dan pecah-pecah.

Tapi kali itu bahkan setelah saya ga pernah pakai lagi pasta gigi yang semriwing, bibirnya ga sembuh-sembuh. Jadi berasa pakai apaaa gitu di bibir. Tebel, kaku, kering, kalo ketawa kelebaran dikit langsung "kreeek" pecah dan berdarah....

Akhirnya tersangka utama pindah ke lipstik. Memang sejak Februari karena dapet voucher diskon saya beli lipstik sama merk cuma beda warna. Kirain mah ga bakal ngaruh gitu ya...ternyata...

Demi mengembalikan kesegaran bibir saya mencoba berbagai cara. Dari mulai minum vit C dan makan buah banyak, minum air…

Kisah Malam Kamis Pahing

Hellow.... sudah hampir sebulan pulang ke pelukan orang-orang terkasih dengan segala cerita seru dan kejutan-kejutan yang mendebarkan tentu saja hehehe. Singkat kata, jangan dibilang ini culture shock ya yes...wong dulu juga jadi hal yang biasa aja. Cuma karena 5 tahun ga bersua dengan kejadian tak terduga ntu, trus latah disebut culture shock. Cuma bikin deg-deg an aja, plus lelah. Namun, se-lelah-lelahnya, karena di sini ada bahu yang siap dijadikan sandaran, ada wajah menggemaskan yang selalu setia mendengarkan setiap keluhan, maka yang begituan bisa jadi lucu-lucuan aja.

Dimulai dengan mendadak habislah quota internet padahal baru beli seminggu. Yah, gimana ga cepet habis kalau gaya berinternetnya masih kayak di Jepang sono. Tiap sekian menit cek fb. Kalau ada video menarik langsung click lihat. Udah gitu settingan WA semua foto dan video masuk langsung didonlot. Hmm...ya bablas mak...orang cuma segiga ini lho jatahmu.

Ok, masalah per-quotaan ini akhirnya bisa disiasati dengan se…

Buat kamu yang masih ragu menulis di mojok. Iya kamu!

Beberapa pecan yang lalu tulisan ku lolos meja redaksi mojok.co (link nya http://mojok.co/2016/03/surat-untuk-bu-ani-yudhoyono/). Web favorit anak muda yang agak nyleneh tapi asyik ini memang menantang sekali. Para penulisnya kebanyakan anak muda-muda yang berdaya nalar mletik. Pinter tapi unik. Yang sudah berumur ada juga sih, kayak si Sopir truk Australia, atau kepala suku Mojok, Puthut EA dan juga wartawan senior Rusdi Mathari. Mereka itu guru maya menulis yang baik. Tulisan mereka, kecuali si supir truk, mengalir dengan indah. Sederhana tapi penuh makna. Alurnya jelas. Kalimatnya mantap tidak pernah bias. Aku selalu dibuat kagum dengan tulisan-tulisan mereka, bahkan yang hanya status Fb.

Yang selalu menjadi icon dan lumayan bullyable di mojok itu adalah Agus Mulyadi. Anak muda yang terkenal karena kemrongosan giginya ini selain jadi photosop juga jago nulis. Tulisan-tulisannya di Blog pribadinya khas sekali. Dengan umpatan-umpatan khas magelangan. Plus cerita-cerita lugu yang jug…