Skip to main content

Posts

[PARA MANTAN] Pengasuh Kecil untuk Ari Kecil

Saya akan mengawali kisah "PARA MANTAN" ini dengan cerita tentang seorang teman, sekaligus pengasuh, saat saya kecil dulu.
Lek Sih namanya. Kalau tidak salah, dia adalah anak paling kecil dari Wo Yam. Wo Yam ini merupakan dukun bayi paling mumpuni dan seniro di kelurahan Banyudono. Beliau punya anak cewek semua, dan Lek Sih adalah anak paling bontotnya. 
Lek Sih mulai ikut membantu Mae menjaga saya sejak kira-kira umurku 2 tahun. Sebab sejak umur 2 tahun itu, saya harus sering ditinggal Mae. Mae harus mengantar Pae berobat ke sana ke mari. Kadang bahkan Pae harus ditinggal di sebuah balai pengobatan tradisional dan kemudian Mae tiap 2 hari sekali menjenguk sambil membawapkan baju ganti. Kalau tidak ada Lek Sih, maka otomatis saya harus dibawa-bawa. Itu sungguh sangat merepotkan.
Saat Pae meninggal, Lek Sik menggendong saya sejak pagi. Tak sedetikpun Lek Sih menurunkan saya. Dia menggendong saya di depan. Jika capek, dia pindah saya ke belakang, di atas punggungnya. Sambil m…
Recent posts

Sekoteng Hati

Aku sedang mencari tempat yang tepat
untuk menikmati segelas sekoteng ini.
Tempat yang sejuk, silir, dan sunyi.
Tempat yang aman dari pandangan aneh orang
saat melihatku melamun sambil nyruput sekoteng ini.
Tentu saja juga tempat yang aman
dari wira wiri jin keganjenan yang mungkin saja
ingin merasukiku karena aku kebanyakan melamun.

Aku sedang mencari tempat seperti itu.

Aku juga sedang mencari teman,
yang di pelukannya aku bisa menangis sepuasku.
Jikapun dia merasa malu,
maka menangis di pundaknya pun bagiku sudah cukup.
Atau, biarkan aku menangis dan dia cukup memandangiku
sambil sesekali ngecek updatean statusnya.
Aku tak peduli.
Karena aku cuma tak ingin menangis sendirian.
Aku ingin ada yang tahu aku sedang pilu.
Aku sedang mencari teman seperti itu.

Atau mungkin,
Akhirnya aku harus menjatuhkan pilihanku pada sekoteng ini.
Biar cuma dia saja yang tahu aku sedang ingin memangis.
Mungkin air mataku bisa menambah cita rasanya yang kemanisan.
Atau mungkin memang takdirku cuma begin…

Aku yang mulai sakit

Aku mulai merasa sakit
Sakit akibat rasa marah yang tak berkesudahan Atas kata-katamu yang tak tajam Tapi sanggup merobek-robek semua file kebaikan tentang dirimu
Lalu, Aku berusaha menyusun serpihannya Dengan menggali dibalik neuron-neuron otakku Semua kebaikan tentang mu
Aku sudah merasa sakit
Jauh sebelum pekan itu Sejak sekian ratus hari lalu Dengan kecewa yang bagai cermin Sama namun terbalik gambarnya
Meski sejak itu, Aku berjanji tak akan pernah lagi merasa sakit Jikapun kau lakukan hal yang sama padaku Karena sejujurnya aku tahu Pengorbananmu lebih besar dari cintaku
Aku mulai merasa sakit
Sakit atas rasa takut yang tak kepada siapaun bisa kubagi
Aku menoleh padamu tapi tembok yang kubangun terlalu tinggi Aku tak menemukanmu dalam jangkauan tanganku Aku kehilangan kepercayaan atas ketulusanmu




(Yamaguchi, sekian puluh purnama yang lalu. Beberapa minggu menjelang ujian Doktoral. Entah puisi ini ditulis untuk siapa atau karena kejadian apa. Tapi membacanya saat ini, April 2020, aku seperti diingatkan …

Rabu Jalan -- Osakajo, Karakter Jepang yang Sesungguhnya

(Osakajo dari kejauhan, megah sekali)
Hai.... Rabu jalan hadir lagi. Kali ini mau cerita pengalaman kami mendatangi Osaka castle alias Osakajo, sehari sebelum pulang ke tanah air, sebulan lalu.

Awalnya kami berencana menghabiskan hari terakhir di Jepang dengan keliling Osaka terutama mengunjungi Universal Studio, lalu ke Tenjin, trus ke Osaka castle ini. Apalah daya, kakinya plus body-nya udah tidak kuat lagi. Beberapa hari divorsir beresin rumah, plus malam terakhir di Yamaguchi waktu itu juga cuma sempat tidur 2 jam. Itupun tidur ayam aja dan sudah jam 2 dinihari baru bisa slonjor ngeluk boyok.

Oke,
Untuk bisa sampai ke Osaka castle ini ada banyak sekali rute yang bisa dilalui. Kalau kalian dari Kansai airport, bisa langsung naik kereta ke Osaka station dan naik kereta ke station terdekatnya. Kalau ga salah ada 2 stasiun yang lokasinya paling dekat dengan Osakajo ini, namanya Tanimachi dan Osakajo koen. Nah waktu itu kami memilih Osakajo Koen sebagai tempat transit, karena pas di ce…

Tiba Saatnya Kembali untuk Pulang

"All my bag are packed, I am ready to go,
 I am standing here outside your door,  I hate to wake you up to say goodbye...."

Siapa yang tak kenal lagu itu? Lagu kebangsaan para perantau setiap kali harus pergi dan pulang. Lagu yang menggambarkan betapa beratnya segala bentuk perpisahan itu, tak terkecuali berpisah untuk bertemu, dan berpisah untuk kembali ke tempat asal. PULANG.
Sudah berapa lama ya ga nulis? Lamaaa sekali rasanya. Padahal banyak ide berseliweran. Apa mau dikata, kesibukan packing dan sederet hal-hal yang berkaitan dengan kepulangan ke tanah air, merampas semua waktu yang tersisa. Semua begitu terasa cepat dan hari berganti bagai kita membalik lembaran buku penuh tulisan membosankan. Akhirnya, senja benar-benar telah sampai di gerbang malam. Sudah saatnya mentari kembali ke peraduan. Bersama orang-orang kesayangan.
Khusus untuk di Jepang, pulang selamanya (duh...) atau back for good (BFG) itu harus menyeleseikan terlebih dahulu banyak hal yang berkaitan dengan …

Jalan-jalan di Jogja, sholatnya di mana?

Waktu kami tinggal di Jepang, untuk sekedar keluar jalan-jalan kami harus pandai-pandai mengatur waktu. Atau lebih tepatnya mengelola waktu. Jika jaraknya lumayan jauh, dan sholat bisa dijamak, maka itu akan terasa lebih menguntungkan dibandingkan jika hanya pergi jarak beberapa kilometer saja namun karena harus ditempuh dengan naik sepeda maka waktu tempuhnya menjadi lama. Apalagi jika tujuannya adalah main ke mall atau ke taman bermain atau melihat festival, ada banyak pertimbangan yang harus kami lakukan, terutama yang menyangkut dua pertanyaan. Kapan dan di mana sholat?
Kapan? Tentunya saat waktu sholat sudah masuk. Namun, masuknya waktu sholat belum tentu klop dengan kodisi di lapangan. Ini berkaitan dengan pertanyaan kedua, di mana?
Di mana kami akan atau bisa sholat?
Untuk pertanyaan ini, ada banyak pilihan jawaban sebenarnya. Jika posisinya ada di luar ruangan, maka semua sudut parkiran, atau tempat teduh di taman, atau bahkan pinggir sungai yang tenang dapat dijadikan the perfe…

Hujan, dan Doa-doa yang Dikabulkan

(Design picture by Dey Iftinan)
Aku pernah sangat membenci hujan. Aku tidak suka basah dan dingin yang diakibatkan olehnya. Aku juga tidak suka ketika kegiatanku terganggu karena hujan turun, entah itu gerimis maupun hujan deras. Aku selalu bilang, orang-orang yang menyukai hujan, pastilah mereka yang punya mobil untuk bisa kemana-mana, atau mereka yang tak harus kemana-mana karena semua kebutuhannya sudah tercukupi.

Aku pernah membenci hujan.

Aku membenci hujan dua kali lebih besar ketika dia turun di pagi hari, saat aku harus mengantar anak sekolah dan saat semua kegiatan akan dimulai. Susah bukan, jika harus berangkat berhujan-hujan lalu sampai sekolah dengan kebasahan? Itulah kenapa aku membencinya dua kali lipat jika hujan turun di pagi hari.

Dan aku masih membenci hujan.

Aku pun mengutuki hujan yang turun di sore hari, saat berasku habis. Aku harus berkejaran dengan waktu dan juga hujan, untuk pergi ke toko membeli beras, lalu mengayuh sepedaku cepat-cepat menjemput anakku di se…