Kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara wisuda di Singapore Institute of Management (SIM) yang berkolaborasi dengan University of London. Di hari wisuda kemarin, ada 800 lebih mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi, dan 67 di antaranya adalah anak-anak Indonesia. Oleh sebab itulah, kami diundang untuk menghadiri acara tersebut.
Sudah agak telat beberapa menit saat kami sampai di venue. Tim sudah menunggu dan saya beserta staff langsung dibawa naik ke atas. Berhubung saya datang saat the President of SIM sedang berpidato, maka saya memilih untuk masuk dan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, sebab kursi saya ada di tengah-tengah pas di depan mimbar pidato.
Sudah lama rasanya saya tidak menghadiri sebuah acara wisuda dengan suasana yang cukup hikmat. Saya sendiri terakhir wisuda tahun 2014. Terakhir wisuda suami di GOR UNY agak kurang hikmat karena suasananya yang agak sumuk.
Ruang wisuda ini disetting agak remang. Spotlight tertuju di panggung utama. AC dinyalakan tidak terlalu dingin, tapi cukup nyaman. Tamu-tamu undangan diberikan satu tetrapack air mineral. Tidak ada snack box. Makan dan party sederhana sudah disiapkan di lobby lantai 1.
Orang tua dan undangan duduk rapi di baris bangku sayap kiri, sedangkan para calon wisudawan wisudawati duduk takzim di tempat duduknya masing-masing. Mereka duduk sesuai urutan nama mereka akan disebut. Seperti wisuda-wisuda pada umumnya.
Topi dan baju toga dominan hitam mereka kenakan dengan anggun. Yang berbeda dengan di Indonesia hanya di sini tidak ada yang berkebaya. Ada beberapa yang menggunakan kain sari jika dia berasal dari India. Tapi kebanyakan pakai baju formal. Kemeja putih dengan rok atau celana warna gelap. Bahkan ada yang menggunakan celana pendek. Dan saya lihat itu tidak mengurangi kesakralan acara.
Tapi bukan itu sebenarnya yang menarik perhatian saya, dan ingin saya ceritakan di sini.
Dari pidato Presiden SIM yang lumayan agak lama itu, saya cukup terkesan dengan closing-nya. Ada 3 pesan yang dia sampaikan kepada para wisudawan dan wisudawati ini. Hanya sayangnya saya lupa yang pertama dan ketiga itu apa hahaha. Yang saya ingat hanya pesan kedua saja. Dan saat mendengarkannya, saya merasa relate sekali.
Pesannya kurang lebih begini,
"Kalian jangan salah. Sukses itu tidak membawa kebahagiaan. Justru kebahagiaanlah yang akan membawa kita pada kesuksesan"
Selama ini kita mengira bahwa kesuksesanlah yang akan memberikan kita kebahagiaan. Saat karier kita sukses, studi kita sukses, maka itu akan menjadi sebab kita bahagia. Ternyata, kita salah mindset. Kita harus bahagia dulu untuk mencapai kesuksesan. Dan ini bener banget.
Saat kita sudah bahagia, kita akan mengerjakan tanggung jawab kita dengan baik. Tidak akan sibuk mengurusi orang lain. Akan bahagia dengan pencapaian teman. Akan dengan senang hati membantu jika ada yang membutuhkan. Tidak mudah mengeluh saat menghadapi kesulitan. Semua energi positif yang kita keluarkan, akan mengelevasi kita menuju jalan sukses.
Jadi, coba kita renungkan, jika saat ini kita belum sukses, jangan jangan karena memang kita belum bahagia?
Lalu, untuk bisa bahagia, kita harus bagaimana?
Comments
Post a Comment