Skip to main content

Posts

Sa'i : Berjuang karena Percaya

Malam ini, seperti halnya malam kemarin, saya menunggu isya di shaff sholat perempuan di dekat tempat Sa'i.  Sa"i, sebuah laku perjuangan seorang hamba (yang juga ibu), yang dia bahkan tahu rasanya mustahil dia bisa menemukan yang dia cari, tapi rasa percayanya kepada Tuhannya, lebih besar dari segala kesadaran yang dia miliki. Ibunda Siti Hajar. Ibu dari Nabi Ismail. Putra Nabi Ibrahim yang sudah dinantikan lama kehadirannya. Tapi apa mau dikata, perintah Allah untuk meninggalkan mereka berdua di lembah tandus di Makkah adalah ujian cinta juga. Mana yang lebih Ibrahim cintai? Anaknya atau Tuhannya? Saat melakukan sa"i sendiri beberapa hari lalu. Saya menangis sepanjang bolak balik Shofa dan Marwa. Membayangkan Ibunda Siti Hajar bolak balik 2 bukit ini, tanpa tahu berapa kali ujungnya. Di tengah terik matahari yang sudah pasti panasnya. Yang dia cari memang air. Tapi yang dia ingin buktikan adalah kepercayaan dia kepada yang menyuruh suaminya meninggalkan dia dan anaknya ...

NUSUK: Satu Aplikasi untuk ke Raudhah Berkali-kali

Raudhah, taman syurga, sejatinya adalah halaman rumah Rasulullah. Halaman antara tempat imam dan rumah Nabi ini dulu digunakan oleh Nabi untuk mengajar. Setelah Nabi meninggal, tempat ini kemudian menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Dan Raudhah, adalah idola di masjid Nabawi. Dulu, untuk bisa masuk ke Raudhah, jamaah harus sholat mendekat dengan pintu 21. Kabarnya, karena sering terjadi antrian dan berdesak-desakan, membuat ada beberapa jamaah yang terluka. Seiring perkembangan waktu, takmir Masjid dan pemerintah Madinah mulai melakukan penataan. Awalnya, untuk bisa masuk Raudhah, jamaah harus didaftarkan melalui sistem tasrek. Pihak tour travel yang membawa jamaan umroh dan pemerintah yang mengelola haji, mengatur masuknya dan mendaftarkan jamaah mereka. Namun, cara ini semakin lama semakin tidak efektif. Seiring perkembangan teknologi, dibangunlah sebuah aplikasi baru yang dapat digunakan oleh Jamaah untuk mendaftarkan dirinya sehingga dapat masuk ke Raudhah sesuai dengan jam yang sud...

Pamit : Untuk mu, yang mencintaiku

Aku menulis ini dengan derai yang tak kunjung usai Ada sedih dan haru yg terus mengusik sejak kemarin. Aku tahu, aku sudah berpamitan pada mu berkali waktu. Kemarin pagi, kemarin sore, semalam. Dan pagi ini ku ulangi lagi. Aku pamit dulu Terimakasih sudah menerimaku dengan sangat baik.  Aku selayaknya anak kecil yang selalu ingin mencuri perhatianmu. Dengan aku berlama-lama di sini. Dengan aku bermain di taman syurga dekat dengan mu berkali-kali   Berlebihan kah jika aku merasa kamu beberapa kali tersenyum padaku? Berlebihan pula kah jika aku beberapa kali melihatmu mentertawakan doa doa ku? Aku pamit. Semoga, ada banyak waktu di lain kesempatan. Untuk berlama-lama dekat dengan mu. Wahai engkau yang mencintai ku (Nabawi, menjelang Syuruq) 

Nabawi: Tips Nge-War Shaff untuk Jamaah Perempuan

Ini kali kedua saya menyambangi masjid Nabawi. Masjid yang dibangun bersama-sama, baik oleh kaum Muhajirin maupun Anshar. Konon, masjid ini dibangun di atas tanah milik sepasang anak yatim. Sahal dan Suhail, namanya. Lokasi ini dipilih karena di sinilah dulu pertama kali nabi berhenti saat pertama datang berhijrah ke Madinah. Saya masih tidak percaya bahwa tahun ini saya datang lagi ke sini bukan sebagai jamaah Umroh. Kali ini datang, melepas rindu pada Nabi, sebagai tamu Allah. Tamu dengan perjamuan yang sungguh istimewa.  Nabawi, memang punya vibes yang berbeda dengan masjid Haram. Arsitekturnya membuat hati akan selalu terpikat dan merindu untuk selalu bisa pulang ke sini, lagi dan lagi. Waktu yang rasanya berjalan begitu cepat, dari satu waktu sholat ke waktu sholat berikutnya. Hati ingin selalu mendekat ke masjid, menikmati karpetnya yg empuk, ac nya yang dingin, dan tentu arsitektur atapnya yang sama sekali tidak membosankan. Nabawi selalu penuh dengan jamaah di lima waktu sh...

Bahagia vs Sukses

Kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara wisuda di Singapore Institute of Management (SIM) yang berkolaborasi dengan University of London. Di hari wisuda kemarin, ada 800 lebih mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi, dan 67 di antaranya adalah anak-anak Indonesia. Oleh sebab itulah, kami diundang untuk menghadiri acara tersebut. Sudah agak telat beberapa menit saat kami sampai di venue. Tim sudah menunggu dan saya beserta staff langsung dibawa naik ke atas. Berhubung saya datang saat the President of SIM sedang berpidato, maka saya memilih untuk masuk dan duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu, sebab kursi saya ada di tengah-tengah pas di depan mimbar pidato. Sudah lama rasanya saya tidak menghadiri sebuah acara wisuda dengan suasana yang cukup hikmat. Saya sendiri terakhir wisuda tahun 2014. Terakhir wisuda suami di GOR UNY agak kurang hikmat karena suasananya yang agak sumuk.  Ruang wisuda ini disetting agak remang. Spotlight tertuju di panggung utama. AC...

Bulan Hibah Ilahiyah: Saat Langit Membuka Pendanaan

Mungkin Anda sudah tahu. Tapi saya baru tahu tahun lalu. Tepatnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bahwa sebaiknya, di setiap Ramadhan, kita tidak hanya menjalaninya sebagai sebuah rutinitas belaka. Tetapi kita memanfaatkan bulan yang disediakan oleh Allah untuk pengampunan, kasih sayang dan pengabulan ini (hibah) dengan sebuah (bisa beberapa) proposal. Ada tujuan yang ingin dicapai. Ada hal yang ingin diminta. Dan tentu diusahakan. Apa saja yang bisa diminta? Topik apa yang cocok? Tentu semua tergantung pada diri kita. Mungkin tentang jodoh. Mungkin tentang anak. Mungkin topik kesehatan orang tua. Bisa juga topik kelancaran sekolah. Atau boleh sekali mengambil topik general, kebaikan di dunia dan di akhirat. Semua tergantung dari yang mengajukan proposal. Tahun ini, lini masa pengajuan proposal akan dimulai dari tanggal 18 Februari 2026 dan ditutup pada tanggal 19 Maret 2026. Di dalam lini masa itu, ada waktu-waktu yang ditengarai lebih tepat untuk proses pengajuan proposal, d...

The Amazing 2025

Malam terakhir di tahun 2025 Cepat sekali rasanya 365 hari berlalu tahun ini. Meskipun, iyak bener banget, pas menjalani ya ngeluh-ngeluh, hah heh hoh, Ya Allah Ya Allah.... dan berurai air mata. Luar biasa sekali tahun ini. Aku lupa kapan tepatnya, tapi kalau tidak salah sekitar bulan Juli. Pagi hari setelah sarapan, aku lama duduk termenung di kursi sambil menatap ke arah tanaman-tanaman sirih belanda yang mulai merambat di tembok belakang. Aku bergumam sendiri. Prestasi apa yang sudah ku raih tahun ini? kayak tahun ini udah jalan separo lebih, dan aku ga ngapa-ngapain. Kerjaanku gini-gini aja. Rutinitasku gini-gini aja. Aku ga merasa improve di apapun. Badanku tetep segini-gini aja juga. Stagnan banget. Tapi kemudian, hatiku kayak digelitiki ingatan yang berkilau-kilau. Oh ternyata tahun ini aku udah melakukan banyak hal lho.... Mungkin ini ga langsung prestasi buatku. Tapi aku sedikit punya andil dalam prestasi anak-anak. Ya anakku secara biologis, dan anak-anak di kampus. Ada 4 pr...

Autumn di London yang Dingin dan Gloomy

Sudah di penghujung Desember.  Tahun ini rasanya waktu berjalan cepat sekali. Mungkin karena banyak hal yang harus dikerjakan. Banyak tanggungjawab yang harus diselesaikan. Dan banyak-banyak lain ber keling-keling di seputarku setiap hari. Tapi aku sangat menikmati itu semua. Aku menikmati rapat-rapat panjang. Zoom-zoom sampai malam selama berbulan-bulan setiap malam. Meskipun endingnya agak bikin broken heart 😂 Tapi sejujurnya di sinilah ketulusan ku diuji. Dan aku ga lolos. Kayaknya sih ga lolos ya. Atau lolos dengan nilai tidak excellent. Tapi aku belajar banyak dari itu semua.  Nah, hebatnya, meskipun nilaiku tidak excellent, tapi Allah tetap kasih aku hadiah akhir tahun yang luar biasa. Bisa terbang selama hampir 19 jam itu kl bukan karena kekuatan yang diberikan oleh Allah kayaknya ga mungkin. Dan selama itu aku banyak tidurnya 😂 Lalu bisa jalan yang jauuuh beneran jauuuh menikmati setiap sudut kota London dan Birmingham itu apalagi kalau bukan hadiah istimewa,  A...

Pentingnya Memvalidasi Perasaan

  Salah satu sudut Aston University di Birmingham Hei Apa kabar Hati? Pergi jauh lagi, untuk waktu yang juga tidak sebentar, entah kenapa akhir-akhir ini rasanya lebih berat. Entah, aku sendiri bingung mendefinisikan ini tu rasa apa gitu. Sulit sekali memvalidasi apakah ini sedih? takut? rindu? atau apa?! Aku bingung, sebab betapa excitednya pas harus ngurus visa waktu itu. Mengejar pesawat iwir-iwir dari Adi Sutjipto, turun di Halim, sudah dijemput taxi, lalu menembus kemacetan Jakarta untuk wawancara yang less than 10 minutes, lalu udah masuk taxi lagi ke Soekarno Hatta ngejar pesawat ke Jogja. Udah kayak mudik ke Muntilan aja dalam beberapa jam Jogja-Jakarta. Visa pun, entah kenapa juga bikin deg-deg an. Pasalnya memang nominal di tabungan menggelembung di beberapa hari sebelum masukin syarat-syarat. Bisa karena ini ga bisa dilolosin, kata mbak-mbak Santana. Tapi ya Bismillah lah, kalau visa ga keluar, mungkin aku harus ke Bali saja menemani anak-anak Abdidaya.  Anak-anak s...

Beda Negara, Beda Kota, Beda Vibes-nya [Part 2]

      Oke kita lanjut ya 👉     Kalau di part 1 kita beranjangsana ke negara tetangga, di part 2 ini kita mau menengok tetangga agak jauh. Duh, bukan agak lagi ya, ini emang jauh banget. Ini kayaknya penerbangan terlama sepanjang sejarang penerbangan yang pernah ku lalui. Kalau ke Jepang itu cuma maksimal 7 jam, ini untuk sampai di transit pertama butuh waktu 9,5 jam, lalu lanjut penerbangan 4 jam lagi. Ke manakah kita? eh Aku? 😅 4. Turki (Bursa dan Istanbul)     Agak penasaran sama negara ini karena salah satu temen brainstorming (a.k.a ghibah 😂) sering banget ke sini. Ditambah lagi dengan cerita-cerita dan berita-berita yang bilang negara ini tu kayak Jepang versi Islamnya, jadilah pas ada paket ke Turki lanjut Umroh kita mutusin buat ikutan. Datang di musim gugur dengan suhu galau yang ga dingin-dingin amat tapi kalau ga pake jaket tetep dingin dan -kaum manula ini- takut masuk angin, membuat kami memutuskan pakai jaket tipis-tipis saja. Dan ben...

Beda Negara, Beda Kota, Beda Vibes-nya [Part 1]

Ga nyampe dua bulan udah mau kelar tahun 2023 ini. Doa-doa di akhir tahun lalu dikabulkan dengan bonus-bonus yang luar biasa. Minta tahun 2023 diisi dengan banyak jalan-jalan, eh beneran dikasi banyak perjalanan baik dalam provinsi beda kabupaten sampe ke luar negeri. Kadang sehari bisa dari pagi mruput ke timur selatan naik-naik ke Gunung Kidul, agak siang turun ke utara kembali ke Sleman, lalu sorenya udah harus ke barat meskipun tujuannya bukan mencari kitab suci. Ada banyak banget PR menulis yang belum sempat dikerjakan. Baik menulis paper maupun menulis catatan perjalanan. Biar ikut les menulisnya itu adalah sibgha hnya ya 👀. Oke lah kita mulai mengerjakan PRnya satu-satu. Tadi pas nongkrong sempet kepikiran mo berbagi kesan saat jalan-jalan ke berbagai negara tahun ini. Kesan ini tentu sifatnya sangat subjektif ya. Masing-masing orang bisa menangkap kesan yang berbeda. Ini menurutku saja, mungkin kamu berbeda, ga papa ga usah diperdebatkan.  1. Bangkok, Thailand   ...

Gigi Nasywa dan Dokternya

"Dek, ada dokter gigi, ada dokter telinga, dokter hidung ada ga?" tanya saya di suatu hari kepada Nasywa. Lalu sambil ngupil dia bilang "Ya nggaak laaaah....". Lalu kami tertawa berdua. "Ada dek, mulut, hidung dan telinga itu dokternya satu, yang di Himawari Klinik itu. Kalau upilmu banyak sampe kamu ga bisa napas, nah kamu dibawa ke sana nanti hidungmu disedot pake vacum cleaner kecil kayak pas telingamu kemarin" kata saya menjelaskan tentang dokter THT. Memang beberapa waktu lalu kami sempat bolak balik (dua kali doang soalnya) ke dokter THT karena saya bersihin telinga Nasywa tapi cotton budnya lupa ga saya basahi sehingga membuat telinga bagian dalamnya lecet. Untung ga papa. Ada hikmahnya juga, karena telinganya jadi bersih dibersihin pake jarum vacuum cleaner hehehe. Baru tahu saya ada alatnya. Bahkan ke sana cuma mau bersihin telinga aja juga boleh.  Untuk Nasywa, selain dokter umum anak, ada satu klinik yang dia paliiiing sering datangi,...

Elegi Bulan Juni [Old Memory]

Tanggal satu di bulan Juni, 2017 Kegiatan pagiku diawali dengan bangun tertatih karena kantuk yang masih mendera. Hari ini sungguh luar biasa. Setelah malam-malam penuh mimpi buruk selama beberapa bulan, rasanya semalam itu tak ada mimpi buruk sama sekali. Aku bahkan lupa aku bermimpi apa. Tapi justru itu, bangun pagi, nyiapin sahur untuk Nasywa menjadi sebuah perjuangan  berat. Ya, aku memang baru tidur beberapa jam saja. Berbeda dengan Ramadhan di Indonesia, Ramadhan di sini memang perjuangannya dobel pangkat tiga. Sudah siangnya lebih lama, isya nya lebih lambat. Isya yang baru masuk saat jarum pendek di angka 9 malam hari itu sesuatu. Jam biologis menjadi harus digeser-geser mundur dan mundur lagi. Belum lagi waktu sholat subuh yang sangat pagi, 3:20. Tentu membuat kami harus bangun sahur juga lebih pagi. Jadi praktis, tidur 3-4 jam sudah bangun lagi. Tentu sehabis subuh masih bisa melanjutkan tidur sekitar 2 jam sebelum jam kerja dimulai. Tapi sebenarnya efeknya tidak b...

Ingrid Stand Strong vs L'oreal UV Defender

Duluuu.... Saya termasuk yang ga peduli dengan pemakaian sunscreen di wajah. Saya pikir, yang penting wajah dapet skincare yang bagus maka sudah cukup. Hatapi, ternyata semahal apapun, sebagus apapun skincare mu, kalau wajahmu yang habis di-skincare-in itu ga dilindungi ya sama aja, rusak juga.  Kesadaran itu tapi datang terlambat. Ya ga begitu terlambat sih, tapi cukup terlambat sehingga wajahku sudah banyak ternodai bercak hitam. Apalagi, karena setelah pulang sekolah kerjaan banyak dilakukan dari dalam ruangan, jadi ga begitu peduli lagi dengan pemakaian sunscreen. Setelah tahu betapa pentingnya sunscreen, petualangan saya mencari sunscreen yang cocok pun dimulai. Duluuu waktu di Nihon, saya pakai moisturaizer yang sekaligus sunscreen SPF 50. Tapi...pas mo beli di sini harganya naudzubillah. Padahal di sana cuma 2000 yen an kenapa di sini jadi hampir sejutaan. Hmm....Shiseido emang gitu banget. Oke lah, mulai nyoba sunscreen murah meriah, tapi rasanya jadi lengket, berminyak dan...

Blighted Ovum (BO): Diputusin Pas Lagi Bucin

Sudah sering dengar istilah itu, tapi kayaknya saya misheard alias salah dengar. Saya dengernya blinded ovum 😂 dengan asumsi ovumnya ga lihat gt trus salah ketemunya trus janinnya ga berkembang. Ealah gini amat padahal IELTSnya 6,5 tapi listening nya rada jangan gori, alias gudeg eh budeg 😅 Istilah lain dari kasus ini adalah unembrionic pregancy , atau kehamilan tanpa embrio, alias zonk. Ada juga yang menyebut hamil anggur. Apapun istilahnya, intinya adalah, seorang wanita dinyatakan positif hamil karena kadar hormon HSGnya tinggi yang ditandai dengan garis dua ketika dilakukan tes urine, hasil USG pun menyatakan ada kantung kehamilan di rahim, tetapi tidak ada janin di dalam kantung itu.  Semua Ibu yang mengalami ini akan merasakan semua gejala kehamilan. Dia akan merasakan badannya tidak enak, mudah lelah, mabuk darat laut dan udara semua jadi satu, tapi semua itu hanya kamuflase hormonal belaka. Pokoknya kayak kamu udah dibucinin sampe klepek-klepek tapi aslinya dia cuma mai...

Perjalanan Jumat: On The Road

Hai kamu, apa kabar? Aku menemukan cuplikan ini tadi pagi di memori Fb. Status yang sejatinya hanya copy paste dari fan page nya Tarbawi ini aku tulis tahun 2013. Tahun yang juga tidak mudah bagiku. Tahun pertama kuliah, tinggal di negeri orang, sendirian dan bawa Nasywa. Kalau sampai hari ini aku masih diberi kewarasan setelah semua waktu-waktu berat yang pernah ku lalui, itu pasti karena Allah sayang aku. Atau Allah sayang Nasywa sehingga Dia tak mau Nasywa sedih punya Ibu gila. Atau Allah tak mau melihat Mae bersedih melihat anaknya kurang waras. Atau juga mungkin karena ada kau sebut namaku dalam salah satu doamu. "Setiap kita, pasti punya momen berat, sangat berat bahkan. Di momen itu kita sampai pada satu titik, bahwa segala rasionalitas kita, juga kehebatan kemanusiaan kita tak lagi punya kesanggupan. Bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mampu. Itu ruang spiritualitas, yang tidak bisa kita masuki kecuali dengan ketundukan" . #Tarbawi 301 Sejatinya memang semua ...

2021 : Sunrise till Sunset

  Foto ini diupload Sensei di Facebooknya awal tahun lalu, tahun 2021. Dia juga kirimkan aku foto ini via WA dengan caption yang kalau diartikan kira-kira bunyinya "Selamat tahun baru, ini matahari dan salju pagi ini. Kapan ke sini lagi?" Aku senyum-senyum ketika membacanya. lalu sekian menit kemudian tergugu dalam rindu. Iya, ternyata aku serindu itu dengan Yamaguchi. Rumah yang ku tinggali 5 tahun. Yang menorehkan banyak cerita suka maupun duka. Ku fikir aku sudah bisa ke sana tahun ini, tapi ternyata belum. Terlalu banyak hal yang membuatku harus kembali menyimpan rapi rindu itu. Siapa yang menduga tahun ini akan banyak sekali project yang disampirkan di pundakku. Rasanya tidak ada doa yang aku ulang sebanyak doa "Ya Allah, mampukan hamba menyeleseikan semua amanah ini dengan baik, tanpa menyakiti hati diri sendiri maupun orang lain". Doa itu bahkan menjadi doa wajib selama Ramadhan. Di setiap berbuka, doa itu ku panjatkan. Aku ternyata takut sekali dengan banyak...