Skip to main content

Pamit : Untuk mu, yang mencintaiku

Aku menulis ini dengan derai yang tak kunjung usai

Ada sedih dan haru yg terus mengusik sejak kemarin.

Aku tahu, aku sudah berpamitan pada mu berkali waktu.

Kemarin pagi, kemarin sore, semalam.

Dan pagi ini ku ulangi lagi.

Aku pamit dulu

Terimakasih sudah menerimaku dengan sangat baik. 

Aku selayaknya anak kecil yang selalu ingin mencuri perhatianmu. Dengan aku berlama-lama di sini. Dengan aku bermain di taman syurga dekat dengan mu berkali-kali  

Berlebihan kah jika aku merasa kamu beberapa kali tersenyum padaku?

Berlebihan pula kah jika aku beberapa kali melihatmu mentertawakan doa doa ku?

Aku pamit.

Semoga, ada banyak waktu di lain kesempatan. Untuk berlama-lama dekat dengan mu.

Wahai engkau yang mencintai ku


(Nabawi, menjelang Syuruq) 

Comments

Popular posts from this blog

Bulan Hibah Ilahiyah: Saat Langit Membuka Pendanaan

Mungkin Anda sudah tahu. Tapi saya baru tahu tahun lalu. Tepatnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bahwa sebaiknya, di setiap Ramadhan, kita tidak hanya menjalaninya sebagai sebuah rutinitas belaka. Tetapi kita memanfaatkan bulan yang disediakan oleh Allah untuk pengampunan, kasih sayang dan pengabulan ini (hibah) dengan sebuah (bisa beberapa) proposal. Ada tujuan yang ingin dicapai. Ada hal yang ingin diminta. Dan tentu diusahakan. Apa saja yang bisa diminta? Topik apa yang cocok? Tentu semua tergantung pada diri kita. Mungkin tentang jodoh. Mungkin tentang anak. Mungkin topik kesehatan orang tua. Bisa juga topik kelancaran sekolah. Atau boleh sekali mengambil topik general, kebaikan di dunia dan di akhirat. Semua tergantung dari yang mengajukan proposal. Tahun ini, lini masa pengajuan proposal akan dimulai dari tanggal 18 Februari 2026 dan ditutup pada tanggal 19 Maret 2026. Di dalam lini masa itu, ada waktu-waktu yang ditengarai lebih tepat untuk proses pengajuan proposal, d...

Beda Negara, Beda Kota, Beda Vibes-nya [Part 2]

      Oke kita lanjut ya 👉     Kalau di part 1 kita beranjangsana ke negara tetangga, di part 2 ini kita mau menengok tetangga agak jauh. Duh, bukan agak lagi ya, ini emang jauh banget. Ini kayaknya penerbangan terlama sepanjang sejarang penerbangan yang pernah ku lalui. Kalau ke Jepang itu cuma maksimal 7 jam, ini untuk sampai di transit pertama butuh waktu 9,5 jam, lalu lanjut penerbangan 4 jam lagi. Ke manakah kita? eh Aku? 😅 4. Turki (Bursa dan Istanbul)     Agak penasaran sama negara ini karena salah satu temen brainstorming (a.k.a ghibah 😂) sering banget ke sini. Ditambah lagi dengan cerita-cerita dan berita-berita yang bilang negara ini tu kayak Jepang versi Islamnya, jadilah pas ada paket ke Turki lanjut Umroh kita mutusin buat ikutan. Datang di musim gugur dengan suhu galau yang ga dingin-dingin amat tapi kalau ga pake jaket tetep dingin dan -kaum manula ini- takut masuk angin, membuat kami memutuskan pakai jaket tipis-tipis saja. Dan ben...

Sa'i : Berjuang karena Percaya

Malam ini, seperti halnya malam kemarin, saya menunggu isya di shaff sholat perempuan di dekat tempat Sa'i.  Sa"i, sebuah laku perjuangan seorang hamba (yang juga ibu), yang dia bahkan tahu rasanya mustahil dia bisa menemukan yang dia cari, tapi rasa percayanya kepada Tuhannya, lebih besar dari segala kesadaran yang dia miliki. Ibunda Siti Hajar. Ibu dari Nabi Ismail. Putra Nabi Ibrahim yang sudah dinantikan lama kehadirannya. Tapi apa mau dikata, perintah Allah untuk meninggalkan mereka berdua di lembah tandus di Makkah adalah ujian cinta juga. Mana yang lebih Ibrahim cintai? Anaknya atau Tuhannya? Saat melakukan sa"i sendiri beberapa hari lalu. Saya menangis sepanjang bolak balik Shofa dan Marwa. Membayangkan Ibunda Siti Hajar bolak balik 2 bukit ini, tanpa tahu berapa kali ujungnya. Di tengah terik matahari yang sudah pasti panasnya. Yang dia cari memang air. Tapi yang dia ingin buktikan adalah kepercayaan dia kepada yang menyuruh suaminya meninggalkan dia dan anaknya ...