Skip to main content

Nabawi: Tips Nge-War Shaff untuk Jamaah Perempuan

Ini kali kedua saya menyambangi masjid Nabawi. Masjid yang dibangun bersama-sama, baik oleh kaum Muhajirin maupun Anshar. Konon, masjid ini dibangun di atas tanah milik sepasang anak yatim. Sahal dan Suhail, namanya. Lokasi ini dipilih karena di sinilah dulu pertama kali nabi berhenti saat pertama datang berhijrah ke Madinah.

Saya masih tidak percaya bahwa tahun ini saya datang lagi ke sini bukan sebagai jamaah Umroh. Kali ini datang, melepas rindu pada Nabi, sebagai tamu Allah. Tamu dengan perjamuan yang sungguh istimewa. 

Nabawi, memang punya vibes yang berbeda dengan masjid Haram. Arsitekturnya membuat hati akan selalu terpikat dan merindu untuk selalu bisa pulang ke sini, lagi dan lagi. Waktu yang rasanya berjalan begitu cepat, dari satu waktu sholat ke waktu sholat berikutnya. Hati ingin selalu mendekat ke masjid, menikmati karpetnya yg empuk, ac nya yang dingin, dan tentu arsitektur atapnya yang sama sekali tidak membosankan.


Nabawi selalu penuh dengan jamaah di lima waktu sholat. Bahkan, untuk bisa menikmati nyamannya karpet dan ac di dalamnya, kita harus datang sekian waktu lebih awal. Mungkin ini hanya berlaku untuk jamaah perempuan saja ya? Sebab saya lihat jamaah laki-laki selalu santai sekali pergi ke masjidnya dan selalu dapat di dalam. Sedangkan kami, ibu-ibu ini, harus sudah siap paling telat 1 jam sebelum waktu sholat.

Sebelum saya tuliskan rentang waktu aman untuk datang ke Masjid, saya akan cerita dulu tentang pintu mana saja yang bisa digunakan untuk masuk jamaah perempuan. 


Selain gate/pintu 25 seperti gambar di atas, ada beberapa pintu lagi yang bisa digunakan untuk jamaah perempuan, yaitu pintu 14-15 dan 16-17. Pintu 14-15 ada di dekat gate 325. Sedangkan pintu 16-17 ada di dekat gate 329. Namun, yang pasti khusus untuk jamaah perempuan adalah pintu nomer 25 ini. Pintu ini ada di gate 339, sangat dekat dengan gate 338 favorite para bunda. Sebab di dekat situ ada pasar yang selalu jadi tempat belanja.

Dari hasil melakukan pengamatan dan percobaan, berikut adalah waktu yang disarankan untuk jamaah wanita datang ke masjid agar dapat menikmati dinginnya ac dan empuknya karpet.


1. Sholat Subuh

    Datanglah ke masjid paling telat 1,5 jam sebelum adzan subuh. Saya biasanya bangun pukul 2, lalu siap-siap, bahkan bisa mengisi perut dengan buah atau roti dulu, dan turun dari kamar jam 2:30. Di waktu ini saya punya waktu 2 jam sebelum adzan subuh. Dan saya bisa mendapatkan shaff depan sendiri saat masuk dari pintu 15 ataupun 17. 

    Pun misal ada hal yang menghalangi datang pagi untuk sholat malam dan dzikir banyak-banyak. Mendapat shaff di pelataran Masjid saat subuh juga tetap nyaman dan syahdu. Apalagi nanti bertahan hingga syuruq, lalu menyaksikan payung pelataran terbuka. Romantis sekali.

2. Sholat Dhuhur

    Saat ini, pukul 12:18 sudah memasuki waktu duhur. Tadi, saya baru turun jam 11:39 dan pintu 14-17 sudah tutup. Sebenarnya bisa saja ya ake pintu 25. Tetapi siang tadi cuacanya sangat terik. Saya memilih sholat di pelataran saja. Dan ternyata panasnya luar biasa.

   Waktu yang paling maksimal untuk pergi ke masjid menjelang duhur adalah jam 11. Di jam ini, banyak space berkarpet masih kosong. Sebab tidak semua lantai di Nabawi itu dipasang karpet. Untuk yang tidak tahan dingin seperti saya, tempat sholat berkarpet selalu jadi pilihan terbaik

3. Sholat Ashar

    Sama seperti waktu Dhuhur, di waktu Ashar sebaiknya kita datang ke Masjid paling lambat 1 jam lebih awal. Sebab, banyak juga jamaah yang tidak pulang sejak Dhuhur. Mereka memilih tetap di masjid sampai Ashar dan baru pulang setelahnya. Kalau Anda termasuk tahan tidak makan siang, atau bisa sekedar makan roti bekal, maka ini bisa mengurangi intensitas bolak balik hotel. 

4. Sholat Maghrib dan Isya

    Untuk sholat Maghrib ini, Anda harus datang harus ekstra awal jika ingin masuk ke masjid. Sebab tidak seperti Dhuhur dan Ashar yang sebagian Jamaah ada kegiatan ziarah atau city tour, di jam sore semua Jamaah sudah pulang ke hotel dan akan sholat di masjid. 

   Namun misal ternyata sudah agak telat dan dapat di pelataran, tidak jadi masalah. Sebab suhu sudah mulai bersahabat. Tapi bagi yg tidak tahan angin, sebaiknya membawa jaket. Sebab angin di luar sangat kencang, ditambah humidifier yang juga memberikan efek berangin nambah intensitas angin lebih tinggi.

   Solusinya, coba masuk setelah sholat Magjrib. Sebab ada beberapa jamaah yang keluat dari masjid setelah Maghrib. Ini kesempatan bagi kita untuk masuk meskipun harus melewati gelombang keluar yang dahsyat. 


Tapi bukan orang Indonesia kalau tak banyak akal. Nge-war tempat sholat di Masjid bukan hal yang sulit buat para Jamaah Indonesia. Mereka punya strategi yang bagus buat ditiru. 

Salah satu atau salah dua dari Jamaah datang lebih dulu dengan membawa sajadah punya temannya. Lalu temannya bisa menyusul sebisa mereka. Tentu sebelun pintu ditutup. Mereka hanya perlu saling berkabar, ada di mana posisi sajadahnya. Dan semua Jamaah aman bisa sholat dengan lebih nyaman dan khusyuk di dalam masjid.



(Nabawi, selepas Ashar)

Comments

Popular posts from this blog

Bulan Hibah Ilahiyah: Saat Langit Membuka Pendanaan

Mungkin Anda sudah tahu. Tapi saya baru tahu tahun lalu. Tepatnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Bahwa sebaiknya, di setiap Ramadhan, kita tidak hanya menjalaninya sebagai sebuah rutinitas belaka. Tetapi kita memanfaatkan bulan yang disediakan oleh Allah untuk pengampunan, kasih sayang dan pengabulan ini (hibah) dengan sebuah (bisa beberapa) proposal. Ada tujuan yang ingin dicapai. Ada hal yang ingin diminta. Dan tentu diusahakan. Apa saja yang bisa diminta? Topik apa yang cocok? Tentu semua tergantung pada diri kita. Mungkin tentang jodoh. Mungkin tentang anak. Mungkin topik kesehatan orang tua. Bisa juga topik kelancaran sekolah. Atau boleh sekali mengambil topik general, kebaikan di dunia dan di akhirat. Semua tergantung dari yang mengajukan proposal. Tahun ini, lini masa pengajuan proposal akan dimulai dari tanggal 18 Februari 2026 dan ditutup pada tanggal 19 Maret 2026. Di dalam lini masa itu, ada waktu-waktu yang ditengarai lebih tepat untuk proses pengajuan proposal, d...

Autumn di London yang Dingin dan Gloomy

Sudah di penghujung Desember.  Tahun ini rasanya waktu berjalan cepat sekali. Mungkin karena banyak hal yang harus dikerjakan. Banyak tanggungjawab yang harus diselesaikan. Dan banyak-banyak lain ber keling-keling di seputarku setiap hari. Tapi aku sangat menikmati itu semua. Aku menikmati rapat-rapat panjang. Zoom-zoom sampai malam selama berbulan-bulan setiap malam. Meskipun endingnya agak bikin broken heart 😂 Tapi sejujurnya di sinilah ketulusan ku diuji. Dan aku ga lolos. Kayaknya sih ga lolos ya. Atau lolos dengan nilai tidak excellent. Tapi aku belajar banyak dari itu semua.  Nah, hebatnya, meskipun nilaiku tidak excellent, tapi Allah tetap kasih aku hadiah akhir tahun yang luar biasa. Bisa terbang selama hampir 19 jam itu kl bukan karena kekuatan yang diberikan oleh Allah kayaknya ga mungkin. Dan selama itu aku banyak tidurnya 😂 Lalu bisa jalan yang jauuuh beneran jauuuh menikmati setiap sudut kota London dan Birmingham itu apalagi kalau bukan hadiah istimewa,  A...

Beda Negara, Beda Kota, Beda Vibes-nya [Part 2]

      Oke kita lanjut ya 👉     Kalau di part 1 kita beranjangsana ke negara tetangga, di part 2 ini kita mau menengok tetangga agak jauh. Duh, bukan agak lagi ya, ini emang jauh banget. Ini kayaknya penerbangan terlama sepanjang sejarang penerbangan yang pernah ku lalui. Kalau ke Jepang itu cuma maksimal 7 jam, ini untuk sampai di transit pertama butuh waktu 9,5 jam, lalu lanjut penerbangan 4 jam lagi. Ke manakah kita? eh Aku? 😅 4. Turki (Bursa dan Istanbul)     Agak penasaran sama negara ini karena salah satu temen brainstorming (a.k.a ghibah 😂) sering banget ke sini. Ditambah lagi dengan cerita-cerita dan berita-berita yang bilang negara ini tu kayak Jepang versi Islamnya, jadilah pas ada paket ke Turki lanjut Umroh kita mutusin buat ikutan. Datang di musim gugur dengan suhu galau yang ga dingin-dingin amat tapi kalau ga pake jaket tetep dingin dan -kaum manula ini- takut masuk angin, membuat kami memutuskan pakai jaket tipis-tipis saja. Dan ben...