Malam ini, seperti halnya malam kemarin, saya menunggu isya di shaff sholat perempuan di dekat tempat Sa'i. Sa"i, sebuah laku perjuangan seorang hamba (yang juga ibu), yang dia bahkan tahu rasanya mustahil dia bisa menemukan yang dia cari, tapi rasa percayanya kepada Tuhannya, lebih besar dari segala kesadaran yang dia miliki. Ibunda Siti Hajar. Ibu dari Nabi Ismail. Putra Nabi Ibrahim yang sudah dinantikan lama kehadirannya. Tapi apa mau dikata, perintah Allah untuk meninggalkan mereka berdua di lembah tandus di Makkah adalah ujian cinta juga. Mana yang lebih Ibrahim cintai? Anaknya atau Tuhannya? Saat melakukan sa"i sendiri beberapa hari lalu. Saya menangis sepanjang bolak balik Shofa dan Marwa. Membayangkan Ibunda Siti Hajar bolak balik 2 bukit ini, tanpa tahu berapa kali ujungnya. Di tengah terik matahari yang sudah pasti panasnya. Yang dia cari memang air. Tapi yang dia ingin buktikan adalah kepercayaan dia kepada yang menyuruh suaminya meninggalkan dia dan anaknya ...
Raudhah, taman syurga, sejatinya adalah halaman rumah Rasulullah. Halaman antara tempat imam dan rumah Nabi ini dulu digunakan oleh Nabi untuk mengajar. Setelah Nabi meninggal, tempat ini kemudian menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Dan Raudhah, adalah idola di masjid Nabawi. Dulu, untuk bisa masuk ke Raudhah, jamaah harus sholat mendekat dengan pintu 21. Kabarnya, karena sering terjadi antrian dan berdesak-desakan, membuat ada beberapa jamaah yang terluka. Seiring perkembangan waktu, takmir Masjid dan pemerintah Madinah mulai melakukan penataan. Awalnya, untuk bisa masuk Raudhah, jamaah harus didaftarkan melalui sistem tasrek. Pihak tour travel yang membawa jamaan umroh dan pemerintah yang mengelola haji, mengatur masuknya dan mendaftarkan jamaah mereka. Namun, cara ini semakin lama semakin tidak efektif. Seiring perkembangan teknologi, dibangunlah sebuah aplikasi baru yang dapat digunakan oleh Jamaah untuk mendaftarkan dirinya sehingga dapat masuk ke Raudhah sesuai dengan jam yang sud...