Malam ini, seperti halnya malam kemarin, saya menunggu isya di shaff sholat perempuan di dekat tempat Sa'i.
Sa"i, sebuah laku perjuangan seorang hamba (yang juga ibu), yang dia bahkan tahu rasanya mustahil dia bisa menemukan yang dia cari, tapi rasa percayanya kepada Tuhannya, lebih besar dari segala kesadaran yang dia miliki.
Ibunda Siti Hajar. Ibu dari Nabi Ismail. Putra Nabi Ibrahim yang sudah dinantikan lama kehadirannya. Tapi apa mau dikata, perintah Allah untuk meninggalkan mereka berdua di lembah tandus di Makkah adalah ujian cinta juga. Mana yang lebih Ibrahim cintai? Anaknya atau Tuhannya?
Saat melakukan sa"i sendiri beberapa hari lalu. Saya menangis sepanjang bolak balik Shofa dan Marwa. Membayangkan Ibunda Siti Hajar bolak balik 2 bukit ini, tanpa tahu berapa kali ujungnya. Di tengah terik matahari yang sudah pasti panasnya. Yang dia cari memang air. Tapi yang dia ingin buktikan adalah kepercayaan dia kepada yang menyuruh suaminya meninggalkan dia dan anaknya di tempat itu.
Dia hanya tahu, bahwa dia harus berusaha. Dan dia yakin bahwa usahanya tak akan sia sia. Entah sampai berapa kali dia harus bolak balik Shofa-Marwa, dia hanya yakin, selama belum ada air yang dibutuhkan, maka dia masih akan mampu melakukan pencarian itu. Sebab Allah tak akan pernah menguji hambaNya melebihi batas kemampuanNya.
'Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?" Nabi Ibrahim menjawab, "Ya." Mendengar jawaban itu, dengan penuh keyakinan Siti Hajar berkata, "Jika demikian, Allah tidak akan menelantarkan kami."
Sa'i sekarang sudah sangat nyaman. Kipas angin kencang tersedia. Jalannya juga sdh tidak seterjal aslinya. Hanya memang saran saya, tetaplah pakai alas kaki bersih khusus sa'i yang nyaman. Sebab 7 kali bolak-balik Shofa-Marwa itu cukup menguras energi. Bawalah 2 alas kaki jika sdh niat hendak sa'i. Satu untuk dipakai di luar masjid. Satu khusus dipakai saat sa'i.
(Menjelang Isya, di Masjidil Haram)

Comments
Post a Comment