Skip to main content

Posts

Ingrid Stand Strong vs L'oreal UV Defender

Duluuu.... Saya termasuk yang ga peduli dengan pemakaian sunscreen di wajah. Saya pikir, yang penting wajah dapet skincare yang bagus maka sudah cukup. Hatapi, ternyata semahal apapun, sebagus apapun skincare mu, kalau wajahmu yang habis di-skincare-in itu ga dilindungi ya sama aja, rusak juga.  Kesadaran itu tapi datang terlambat. Ya ga begitu terlambat sih, tapi cukup terlambat sehingga wajahku sudah banyak ternodai bercak hitam. Apalagi, karena setelah pulang sekolah kerjaan banyak dilakukan dari dalam ruangan, jadi ga begitu peduli lagi dengan pemakaian sunscreen. Setelah tahu betapa pentingnya sunscreen, petualangan saya mencari sunscreen yang cocok pun dimulai. Duluuu waktu di Nihon, saya pakai moisturaizer yang sekaligus sunscreen SPF 50. Tapi...pas mo beli di sini harganya naudzubillah. Padahal di sana cuma 2000 yen an kenapa di sini jadi hampir sejutaan. Hmm....Shiseido emang gitu banget. Oke lah, mulai nyoba sunscreen murah meriah, tapi rasanya jadi lengket, berminyak dan...

Blighted Ovum (BO): Diputusin Pas Lagi Bucin

Sudah sering dengar istilah itu, tapi kayaknya saya misheard alias salah dengar. Saya dengernya blinded ovum 😂 dengan asumsi ovumnya ga lihat gt trus salah ketemunya trus janinnya ga berkembang. Ealah gini amat padahal IELTSnya 6,5 tapi listening nya rada jangan gori, alias gudeg eh budeg 😅 Istilah lain dari kasus ini adalah unembrionic pregancy , atau kehamilan tanpa embrio, alias zonk. Ada juga yang menyebut hamil anggur. Apapun istilahnya, intinya adalah, seorang wanita dinyatakan positif hamil karena kadar hormon HSGnya tinggi yang ditandai dengan garis dua ketika dilakukan tes urine, hasil USG pun menyatakan ada kantung kehamilan di rahim, tetapi tidak ada janin di dalam kantung itu.  Semua Ibu yang mengalami ini akan merasakan semua gejala kehamilan. Dia akan merasakan badannya tidak enak, mudah lelah, mabuk darat laut dan udara semua jadi satu, tapi semua itu hanya kamuflase hormonal belaka. Pokoknya kayak kamu udah dibucinin sampe klepek-klepek tapi aslinya dia cuma mai...

Perjalanan Jumat: On The Road

Hai kamu, apa kabar? Aku menemukan cuplikan ini tadi pagi di memori Fb. Status yang sejatinya hanya copy paste dari fan page nya Tarbawi ini aku tulis tahun 2013. Tahun yang juga tidak mudah bagiku. Tahun pertama kuliah, tinggal di negeri orang, sendirian dan bawa Nasywa. Kalau sampai hari ini aku masih diberi kewarasan setelah semua waktu-waktu berat yang pernah ku lalui, itu pasti karena Allah sayang aku. Atau Allah sayang Nasywa sehingga Dia tak mau Nasywa sedih punya Ibu gila. Atau Allah tak mau melihat Mae bersedih melihat anaknya kurang waras. Atau juga mungkin karena ada kau sebut namaku dalam salah satu doamu. "Setiap kita, pasti punya momen berat, sangat berat bahkan. Di momen itu kita sampai pada satu titik, bahwa segala rasionalitas kita, juga kehebatan kemanusiaan kita tak lagi punya kesanggupan. Bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Mampu. Itu ruang spiritualitas, yang tidak bisa kita masuki kecuali dengan ketundukan" . #Tarbawi 301 Sejatinya memang semua ...

2021 : Sunrise till Sunset

  Foto ini diupload Sensei di Facebooknya awal tahun lalu, tahun 2021. Dia juga kirimkan aku foto ini via WA dengan caption yang kalau diartikan kira-kira bunyinya "Selamat tahun baru, ini matahari dan salju pagi ini. Kapan ke sini lagi?" Aku senyum-senyum ketika membacanya. lalu sekian menit kemudian tergugu dalam rindu. Iya, ternyata aku serindu itu dengan Yamaguchi. Rumah yang ku tinggali 5 tahun. Yang menorehkan banyak cerita suka maupun duka. Ku fikir aku sudah bisa ke sana tahun ini, tapi ternyata belum. Terlalu banyak hal yang membuatku harus kembali menyimpan rapi rindu itu. Siapa yang menduga tahun ini akan banyak sekali project yang disampirkan di pundakku. Rasanya tidak ada doa yang aku ulang sebanyak doa "Ya Allah, mampukan hamba menyeleseikan semua amanah ini dengan baik, tanpa menyakiti hati diri sendiri maupun orang lain". Doa itu bahkan menjadi doa wajib selama Ramadhan. Di setiap berbuka, doa itu ku panjatkan. Aku ternyata takut sekali dengan banyak...

Diary : 'Almost Done' Feeling

Hari ini langit biru sempurna. Angin bertiup tidak terlalu kencang tapi cukup menyeimbangkan teriknya matahari sehingga masih tetap berasa sejuk. Musim semi memang sudah separoh jalan. Sakura sudah gugur, bahkan bekasnya sudah lenyap dibawa air hujan yang 12 jam penuh dimuntahkan dari langit Yamaguchi senin kemarin. Pohon sakura yang meranggas selama musim dingin, lalu mendadak penuh bunga mungil rapuh nan indah itu, sekarang sudah menghijau kembali. Kehidupan baru dimulai lagi. Pohon-pohon bersemi. Bunga-bungaan musim semi lain seperti tulip dan beberapa irish bermekaran beraneka warna. Pucuk-pucuk bunga khas musim panas pun mulai dipenuhi kuncup bunga. Pink, ungu tua, merah muda dan putih. Mungkin sebulan lagi wajah Jepang, Yamaguchi khususnya, akan dipenuhi bunga-bungaan itu. Tentu juga musim hujan akan segera datang. Musim hujan yang cuma sebulan tapi hujan bisa datang saban hari itu selalu menjadi momok beberapa orang, tapi berkah buat yang punya coin laudry-an. Langit s...

'Self Reward': Perlukah?

Dia berulang tahun hari ini. Aku tidak tahu ucapan apa yang pantas untuk dia selain kata-kata yang terangkai menjadi kalimat klise.  "Selamat ulang tahun, semoga seluruh usaha dimudahkan, diberikan kebahagiaan dan kesehatan" Seperti yang kalian tahu, doa minta sehat itu sekarang menjadi salam penutup dengan daya sentuh yang kuat. Sehat menjadi rezeki yang akan diminta siapapun dia. Dan doa diberikan kesehatan itu menenangkan. Paling tidak, diantara sekian puluh, sekian ratus, atau sekian ribu orang yang mendoakan, akan ada satu yang dikabulkan. Seperti doa-doa Abu yang aku yakin dikabulkan Allah, sehingga aku bisa melesat sejauh ini.  Dia, adek kecil yang berulangtahun hari ini itu, adalah sahabat sekaligus keluargaku. Aku kadang berfikir, kenapa aku dipertemukan dengan orang-orang tertentu. Begitu juga kenapa aku dipertemukan dengan dia. Lalu seiring berjalannya waktu aku tahu, bahwa dia adalah tempat belajar untukku tentang kesabaran, kedewasaan, dan sumber cinta yang besar...

Belajar dari Aska Kecil

Tulisan ini sudah dimuat di Rahma.id dengan Judul "Belajar dari Aska" pada 5 Mei 2020 Link: https://rahma.id/belajar-dari-aska/   Aska namanya. Entah nama lengkapnya siapa saya tidak tahu. Mungkin dulu waktu ‘tilik bayi’ (nengok bayi) saya pernah dikasi tahu nama lengkapnya. Tapi bukanlah saya jika mudah mengingat nama seseorang. Aska kelas 1 SD sekarang.  Dia tinggal di ujung kampung, lumayan jauh dari pemukiman. Dulu Bapaknya adalah seorang TKW, bekerja di Malaysia agar bisa nabung dan membangun rumah sederhada di pojokan sawah petak warisan Kakeknya Aska. Bapaknya memutuskan pulang dan tidak meneruskan menjadi TKW setelah rumah bisa berdiri. Berdiri saja, asal tidak lagi kehujanan dan kepanasan. Perkara di dalamnya masih seadanya ya itu dipikir nanti sambil jalan. Soalnya juga saat bekerja di Malaysia, mata Bapak Aska penah kena pecahan material sehingga ada pelukaan dan butuh dioperasi. Berhubung penanganannya sudah agak telat, mata Bapak Aska yang sebelah sekarang tida...