Skip to main content

Posts

Aku yang mulai sakit

Aku mulai merasa sakit Sakit akibat rasa marah yang tak berkesudahan Atas kata-katamu yang tak tajam Tapi sanggup merobek-robek semua file kebaikan tentang dirimu Lalu, Aku berusaha menyusun serpihannya Dengan menggali dibalik neuron-neuron otakku Semua kebaikan tentang mu Aku sudah merasa sakit Jauh sebelum pekan itu Sejak sekian ratus hari lalu Dengan kecewa yang bagai cermin Sama namun terbalik gambarnya Meski sejak itu, Aku berjanji tak akan pernah lagi merasa sakit Jikapun kau lakukan hal yang sama padaku Karena sejujurnya aku tahu Pengorbananmu lebih besar dari cintaku Aku mulai merasa sakit Sakit atas rasa takut yang tak kepada siapaun bisa kubagi Aku menoleh padamu tapi tembok yang kubangun terlalu tinggi Aku tak menemukanmu dalam jangkauan tanganku Aku kehilangan kepercayaan atas ketulusanmu ( Yamaguchi, sekian puluh purnama yang lalu. Beberapa minggu menjelang ujian Doktoral. Entah puisi ini ditulis untu...

Rabu Jalan -- Osakajo, Karakter Jepang yang Sesungguhnya

(Osakajo dari kejauhan, megah sekali) Hai.... Rabu jalan hadir lagi. Kali ini mau cerita pengalaman kami mendatangi Osaka castle alias Osakajo, sehari sebelum pulang ke tanah air, sebulan lalu. Awalnya kami berencana menghabiskan hari terakhir di Jepang dengan keliling Osaka terutama mengunjungi Universal Studio, lalu ke Tenjin, trus ke Osaka castle ini. Apalah daya, kakinya plus body- nya udah tidak kuat lagi. Beberapa hari divorsir beresin rumah, plus malam terakhir di Yamaguchi waktu itu juga cuma sempat tidur 2 jam. Itupun tidur ayam aja dan sudah jam 2 dinihari baru bisa slonjor ngeluk boyok. Oke, Untuk bisa sampai ke Osaka castle ini ada banyak sekali rute yang bisa dilalui. Kalau kalian dari Kansai airport, bisa langsung naik kereta ke Osaka station dan naik kereta ke station terdekatnya. Kalau ga salah ada 2 stasiun yang lokasinya paling dekat dengan Osakajo ini, namanya Tanimachi dan Osakajo koen. Nah waktu itu kami memilih Osakajo Koen sebagai tempat transi...

Tiba Saatnya Kembali untuk Pulang

"All my bag are packed, I am ready to go,  I am standing here outside your door,  I hate to wake you up to say goodbye...." Siapa yang tak kenal lagu itu? Lagu kebangsaan para perantau setiap kali harus pergi dan pulang. Lagu yang menggambarkan betapa beratnya segala bentuk perpisahan itu, tak terkecuali berpisah untuk bertemu, dan berpisah untuk kembali ke tempat asal. PULANG. Sudah berapa lama ya ga nulis? Lamaaa sekali rasanya. Padahal banyak ide berseliweran. Apa mau dikata, kesibukan packing dan sederet hal-hal yang berkaitan dengan kepulangan ke tanah air, merampas semua waktu yang tersisa. Semua begitu terasa cepat dan hari berganti bagai kita membalik lembaran buku penuh tulisan membosankan. Akhirnya, senja benar-benar telah sampai di gerbang malam. Sudah saatnya mentari kembali ke peraduan. Bersama orang-orang kesayangan. Khusus untuk di Jepang, pulang selamanya (duh...) atau back for good (BFG) itu harus menyeleseikan terlebih dahulu banyak ha...

Jalan-jalan di Jogja, sholatnya di mana?

Waktu kami tinggal di Jepang, untuk sekedar keluar jalan-jalan kami harus pandai-pandai mengatur waktu. Atau lebih tepatnya mengelola waktu. Jika jaraknya lumayan jauh, dan sholat bisa dijamak, maka itu akan terasa lebih menguntungkan dibandingkan jika hanya pergi jarak beberapa kilometer saja namun karena harus ditempuh dengan naik sepeda maka waktu tempuhnya menjadi lama. Apalagi jika tujuannya adalah main ke mall atau ke taman bermain atau melihat festival, ada banyak pertimbangan yang harus kami lakukan, terutama yang menyangkut dua pertanyaan. Kapan dan di mana sholat? Kapan? Tentunya saat waktu sholat sudah masuk. Namun, masuknya waktu sholat belum tentu klop dengan kodisi di lapangan. Ini berkaitan dengan pertanyaan kedua, di mana? Di mana kami akan atau bisa sholat? Untuk pertanyaan ini, ada banyak pilihan jawaban sebenarnya. Jika posisinya ada di luar ruangan, maka semua sudut parkiran, atau tempat teduh di taman, atau bahkan pinggir sungai yang tenang dapat dijad...

Hujan, dan Doa-doa yang Dikabulkan

( Design picture by Dey Iftinan ) Aku pernah sangat membenci hujan. Aku tidak suka basah dan dingin yang diakibatkan olehnya. Aku juga tidak suka ketika kegiatanku terganggu karena hujan turun, entah itu gerimis maupun hujan deras. Aku selalu bilang, orang-orang yang menyukai hujan, pastilah mereka yang punya mobil untuk bisa kemana-mana, atau mereka yang tak harus kemana-mana karena semua kebutuhannya sudah tercukupi. Aku pernah membenci hujan. Aku membenci hujan dua kali lebih besar ketika dia turun di pagi hari, saat aku harus mengantar anak sekolah dan saat semua kegiatan akan dimulai. Susah bukan, jika harus berangkat berhujan-hujan lalu sampai sekolah dengan kebasahan? Itulah kenapa aku membencinya dua kali lipat jika hujan turun di pagi hari. Dan aku masih membenci hujan. Aku pun mengutuki hujan yang turun di sore hari, saat berasku habis. Aku harus berkejaran dengan waktu dan juga hujan, untuk pergi ke toko membeli beras, lalu mengayuh sepedaku cepat-cepat menjem...

Jika Harus Mati Listrik di Jepang

Seriiiiing sekali saya membaca status teman-teman di FB yang curcol tentang mati listrik di daerahnya. Ada yang sesekali mengumpat ini itu pada PLN karena mati nya udah kayak minum obat saja, tiga kali sehari. Mb Lis malah pernah nulis puisi curcol karena PLN yang seriiiiiing banget bikin sewot. Semalam salah satu teman yang bermukim di pedalaman Kalimantan juga mengeluhkan karena jadwal mati listrik yang biasanya pukul 24:00 sekarang maju jadi jam 23:00, padahal dia punya bisnis online yang baru bisa dioperasikan setelah anak-anak tidur, alis malam hari.  Tapi masalah mati mematikan ini bukannya PLN juga sering memberikan pengumuman? Seingat saya dulu waktu masih tinggal di Jogja, kadang ada pengumuman di Radio yang memberi tahu jika besok akan terjadi pemadaman listrik di daerah mana, jam berapa dan (mungkin) akan berlangsung berapa lama. Sering juga pak RT atau pak RW mengumumkan masalah pemadaman listrik lewat corong mushola, biar tangki-tangki air dipenuhi sebelum ter...

Yang jauh (jangan) dirindu, yang dekat (mari) disyukuri

Apa kabar kamu? Tepat sebulan sudah kami membuka chapter anyar dalam kehidupan kami. Tanggal 24 September, sebulan lalu, saat kaki kami menapaki garbarata pesawat Garuda Indonesia itu, serasa ada suara dari kejauhan yang bilang " Go on to nex page... ". Huft udah kayak tes Toefl aja ya gaes.. Sebulan ini, apakah yang dirindukan dari negeri dongen itu, Aeni? Well, jujur ya, saya belum sempat rindu. Banyak banget hal-hal menggembirakan yang memenuhi relung hati, jadi rindu itu mungkin masih ada di luar. Berusaha mengetuk-ngetuk pintu hati, namun tak saya hiraukan. Apalagi, Nasywa masih mellow gallau. Selama sebulan ini entah sudah berapa kali dia mewek. Mewek pertama itu cuma gara-gara dia nonton Naruto trus soundtrack -nya pakai bahasa Jepang. Kalimat " Ummi...aku tu mau pulang ke Jepang e " meluncur indah, dilanjut dengan butir-butir air mata yang tak bisa lagi dibendung. Padahal itu baru hari ke-2 di Jogja. Bisa dibayangkan lah, hari-hari penuh air mata se...