Skip to main content

Posts

Memilih mati bunuh diri atau malu melarikan diri

Sebagian dari kita, atau mungkin banyak juga, yang pernah pada posisi sulit. Harus memilih diantara dua kemungkinan yang sama-sama ga enaknya. Seperti buah simalakama, demikian kata pujangga. Maju kena mundur kena kata Dono, Kasino, Indro. Situasi yang tidak memberikan pilihan lain yang lebih baik. Cuma ada dua, maju atau mundur, ke kanan atau ke kiri, pergi atau tinggal, ambil atau lempar, kabel biru atau merah. Semakin lama berfikir untuk menentukan pilihan, waktu berjalan tak bisa dihentikan hingga bisa-bisa bom nya meledak, menghancurkan tak hanya kita, tapi orang-orang disekitar kita. Dalam posisi ini, salah memilih pun juga salah. Tapi setidaknya sudah berusaha memilih, bukan diam saja termangu menunggu kehancuran tanpa berusaha menghindar atau meredamkan. Ini lebih salah. Kira-kira begitulah yang saya bayangkan ketika mendengar kabar, ada mahasiswi S3 di Lab tetangga yang memutuskan mengundurkan diri di tahun ke-2. Padahal, menurut teman Lab nya dan orang-orang luar Lab ya...

Ramadhan dan Syawal punya Nasywa

Alhamdulillah...sebulan penuh Ramadhan sudah terlampaui dengan sebaik-baik usaha. Alhamdulilllah dikaruniai kesehatan oleh Allah sehingga bisa melalui hari siang yang panjang dan panas dengan baik meskipun terkadang lemah letih lesu melanda. Masih ingat sehari sebelum puasa, saya diberi nasehat Mae, agar berbekal sabar yang banyaaaak untuk menemani dan membantu Nasywa puasa. Tentu nasehat ini sangat beralasan, mengingat beliau sudah sukses melatih 3 orang anak puasa sejak dini termasuk saya. Ini agak berbeda dengan tahun lalu yang pesan Mae adalah saya tidak boleh memaksa Nasywa puasa penuh, karena memang sangat berat. Tahun ini baik Abahnya Nasywa, maupun Utinya semua sepakat mencoba membuat Nasywa semangat puasa. Jangan ditanya Nasywa diiming-imingi apa? Karena bagi Nasywa, tak ada satupun benda di dunia ini yang bisa menukar keteguhan hati * tsaah... Sudah dipraktekkan tahun lalu segala jenis iming-iming tidak mempan kalau dia memang tidak ingin. Maka tahun ini pun ya tidak...

Rabu Jalan -- IWAKUNI, Kota sejarah dari Periode Edo hingga Restorasi Meiji

Pekan lalu Rabu Jalan lagi ga bisa jalan-jalan. Ga ada sebab lain selain bahwa pekan lalu saya harus bermesraan dengan tetek bengek per-tesis-an yang tidak mau diduakan dengan apapun. Alhamdulillah, submission -nya sudah berjalan lancar. Meskipun, seperti halnya jodoh yang kalau belum " Sah " masih bisa berubah, ini juga kalau belum bruk bruk masih ada yang labil. Mau ditambah ini, mau ditambah itu, dikurangi ini, diganti itu... Dan dia adalah pak Guru. Oke... Rabu jalan kali ini hendak mengulang cerita perjalanan kami ke Iwakuni beberapa bulan yang lalu. Selain Tsuwano, Iwakuni adalah kota yang paling pingin saya kunjungi. Tentu saja jembatan Kintai (Kintai-kyo) yang jadi alasannya. Ya..dalam satu episode, Kenshin dan Kaori rasanya pernah berjalan berdua di jembatan ini. Atau bahkan Kenshin pernah juga bertarung di atas jembatan ini. Yang pasti, jembatan ini adalah satu-satunya alasan kenapa saya begitu ingin pergi ke sana. Kintai-kyo yang membelah sungai Nishiki ...

Rabu Jalan -- Ikan koi di Tsuwano

Waah...udah Rabu lagi nih.... Rabu kali ini saya akan melanjutkan cerita dari perjalanan Rabu pekan lalu. Iyes , tujuan utama naik SL adalah memang untuk pergi ke Tsuwano. Tsuwano sendiri sebenarnya sudah tidak berada di wilayah Yamaguchi, tetapi lebih tepatnya masuk ke dalam wilayah Shimane. Perjalanan menggunakan SL dari Yudaonsen ke Tsuwano, plus berhenti-berhentinya ya, itu sekitar 2 jam 30 menit. Lumayan kan boo....lumayan banget untuk tidur di kereta maksudnya hehehe. 2 jam itu kalau pergi sendiri emang ngebosenin sih. Sudah segala gaya, tetep aja ga nyampe-nyampe. Waktu kemarin sama Nasywa juga kita udah mati gaya tuh sebelum sampe. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Saya dan Nasywa memang ga begitu bisa menikmati perjalanan. Karena, definisi liburan bagi kami itu ya di rumah, tidur, makan, nonton, makan, tidur, dan glundang-glundung. Liburan yang diisi jalan-jalan itu bagi kami bukan liburan juga hahaha. Makannya Nasywa paling ga mau diajak jalan-jalan ...

Rabu Jalan -- Naik kereta uap tuut tuut tuut^^^

Hai hai...ketemu Rabu lagi dan ketemu dengan rubrik Rabu Jalan.... Kali ini saya akan berbagi cerita perjalanan kami naik SL ( Steam Locomotive ) dari Yudaonsen station ke Tsuwano. Ga jauh-jauh ya, ini masih di seputaran Yamaguchi juga. Kota kecil yang sejuk, damai dan tenang cocok buat belajar. hihihi promosi nih ye... Bulan April lalu, Pemerintah provinsi bekerjasama dengan pihak kampus menyelenggarakan event jalan-jalan naik kereta SL ke Tsuwano dengan biaya yang disubsidi oleh pemerintah. Tentu saja tujuan utamanya adalah mempromosikan tempat-tempat wisata, yang salah satunya adalah Tsuwano (Tsuwano letaknya di kota sebelah yaitu Shimane), plus moda transportasinya yang lumayan antik yaitu SL atau kereta uap. Yang boleh ikut tentu haruslah mahasiswa asing dan atau family-nya. Diharapkan mahasiswa itu nantinya bisa ikut mempromosikan objek wisata Yamaguchi di negaranya. Nah...karena sudah dibayarin, jadilah saya nulis ini sebagai bentuk rasa tanggungjawab juga... SL Yamaguc...

Rabu Jalan -- Ichinosaka gawa saat musim sakura

Rubrik baru di blog ini adalah...Rabu Jalan. Sebenernya mau dikasi nama Jalan-jalan, cuma karena rencana mau diposting setiap rabu jadinya digabung aja jadi Rabu Jalan. Di rubrik jalan-jalan saya akan bercerita tentang spot-spot yang sudah pernah dikunjungi baik di Jepang maupun (nanti) di Indonesia. Kalau sempet nulisnya hahaha penting ya itu, mohon digaris bawahi sendiri. Untuk edisi perdana jalan-jalan kali ini saya akan sedikit (kalau banyak-banyak takut kehabisan ide nulis) cerita tentang Ichinosaka gawa atau sungai Ichinosaka terutama saat musim sakura. Kenapa saat musim sakura? Soalnya kalau lagi ga musim sakura, sungai ini ya biasa aja kayak sungai-sungai yang lain di dunia. Ada batunya, ada airnya, ada rumputnya. Yang istimewa adalah di sepanjang sungai ini tumbuh berderet-deret pohon sakura, dari ujung keee ujung. Ada satu waktu lagi yang istimewa dari sungai ini, yaitu saat musim panas dan ada festival Hotaro alias kunang-kunang. Biasanya pada beberapa malam di awa...

When we were young -- Pak Makno

Selamat hari Minggu... di sini sedang hari Ibu lho... Nah pas weekend gini enaknya nulis yang agak-agak berbau kenangan... cieeeee Hari kamis pekan lalu saat golden week, saya sedang bersiap naik sepeda ketika tiba-tiba ada panggilan WA masuk. Dari kakak saya, Mbak Laela Pranowo. Saya tidak menerima panggilan itu, tapi saya kirimkan pesan. Saya bilang " Aku lagi neng njobo e, nopo? (aku lagi di luar, ada apa?) " dan dia pun membalas " Pak Makno nakokke kowe, dilit wae (Pak Makno nanyain kamu, bentar aja) ". Saya pun kembali menyetandarkan sepeda merah itu dan bersiap menerima panggilan video call dari Mbak Iti. Di seberang sana, ada wajah yang tak pernah berubah. Jika rambutnya tak putih, tentu saya akan bisa bilang beliau masih terlihat muda seperti saat 23 tahun yang lalu. Senyumnya masih sama. Intonasi suaranya masih sama. Sama seperti dulu beliau selalu menyapa saya " Oh, kok saiki tambah lemu (Oh, kok sekarang tambah gemuk) " kata beliau sambil...