Skip to main content

Posts

Rabu Jalan -- Ichinosaka gawa saat musim sakura

Rubrik baru di blog ini adalah...Rabu Jalan. Sebenernya mau dikasi nama Jalan-jalan, cuma karena rencana mau diposting setiap rabu jadinya digabung aja jadi Rabu Jalan. Di rubrik jalan-jalan saya akan bercerita tentang spot-spot yang sudah pernah dikunjungi baik di Jepang maupun (nanti) di Indonesia. Kalau sempet nulisnya hahaha penting ya itu, mohon digaris bawahi sendiri. Untuk edisi perdana jalan-jalan kali ini saya akan sedikit (kalau banyak-banyak takut kehabisan ide nulis) cerita tentang Ichinosaka gawa atau sungai Ichinosaka terutama saat musim sakura. Kenapa saat musim sakura? Soalnya kalau lagi ga musim sakura, sungai ini ya biasa aja kayak sungai-sungai yang lain di dunia. Ada batunya, ada airnya, ada rumputnya. Yang istimewa adalah di sepanjang sungai ini tumbuh berderet-deret pohon sakura, dari ujung keee ujung. Ada satu waktu lagi yang istimewa dari sungai ini, yaitu saat musim panas dan ada festival Hotaro alias kunang-kunang. Biasanya pada beberapa malam di awa...

When we were young -- Pak Makno

Selamat hari Minggu... di sini sedang hari Ibu lho... Nah pas weekend gini enaknya nulis yang agak-agak berbau kenangan... cieeeee Hari kamis pekan lalu saat golden week, saya sedang bersiap naik sepeda ketika tiba-tiba ada panggilan WA masuk. Dari kakak saya, Mbak Laela Pranowo. Saya tidak menerima panggilan itu, tapi saya kirimkan pesan. Saya bilang " Aku lagi neng njobo e, nopo? (aku lagi di luar, ada apa?) " dan dia pun membalas " Pak Makno nakokke kowe, dilit wae (Pak Makno nanyain kamu, bentar aja) ". Saya pun kembali menyetandarkan sepeda merah itu dan bersiap menerima panggilan video call dari Mbak Iti. Di seberang sana, ada wajah yang tak pernah berubah. Jika rambutnya tak putih, tentu saya akan bisa bilang beliau masih terlihat muda seperti saat 23 tahun yang lalu. Senyumnya masih sama. Intonasi suaranya masih sama. Sama seperti dulu beliau selalu menyapa saya " Oh, kok saiki tambah lemu (Oh, kok sekarang tambah gemuk) " kata beliau sambil...

Kafunsho, alergi pollen yang datang setiap tahun

Sudah sejak pertengahan Maret tahun ini saya merasakan siksaan setiap pagi yang bersumber dari hidung. Siksaanya berupa hidung meler dan gatel. Melernya itu bening dan banyaaaaak. Banyak banget lah pokoknya sehingga setiap pagi saya harus membawa serta tisyu kemana-mana bahkan ketika harus nongkrong di toilet. Saya kira saya kena flu, makannya saya minum sanaflu. Demikian kata mab Desy Ratnasari ya hehehe. Cuma yang aneh kok kalau saya flu tapi kenapa badan rasanya biasa aja. Ga kayak orang sakit flu gitu. Ok, sanaflu ga mempan maka saya beralih kepada vitamin C. Hampir setiap hari minum UC 1000. Saya agak khawatir juga sama ginjal karena 1000 mg itu guedeee banget lho. Ditambah saya ga begitu suka minum air bening yang fungsinya buat netralisir. Pak guru sempet bilang " Kamu kafun kali... kan sudah tahun ke-5 ini " Tapi saya tetep ga percaya. Masak iya sih kafun pas di tahun terakhir. Perasaan dari tahun tahun sebelumnya ga kayak gini deh masak tahun ini baru mulai. ...

The power of melamun

Lama sekali tidak menulis di sini. Sudah beberapa bulan ini memang waktu, tenaga dan dipikiran terkuras habis untuk menyeleseikan pernak pernik disertasi. Dokumennya itu boooo banyak banget dan ga boleh salah setitikpun atau kamu ga bakal lolos screening untuk ujian. Lebih lelah lagi karena juga harus bergulat dengan hati ku yang selalu saja bolak balik ga karuan. Kadang semangat, optimis dan gembira, tapi kadang mengharu biru dan malas tanpa sebab. Kadang takut juga, bisa ga ya bisa ga ya ... dan lain lain yang mengganggu banget. Sejak akhir Maret lalu, setelah perjalanan ke Tokyo buat urus perpanjangan pasport, saya udah nyusun rencana mau nulis ini itu. Termasuk tips kalau mau jalan ke Museum doraemon atau ke Disney land. Cuma ya itu tadi, mendadak di minggu pertama April sudah langsung jederrr jederrr jadwal ini itu bertubi-tubi, dan tiba-tiba isi kepala menjadi berantakan. Bagaimana kah sekarang? Alhamdulillah satu persatu mulai tertata. Satu persatu di seleseikan samb...

Another Goodbye for Another Hello

Kemarin pagi tiba-tiba ada panggilan masuk melalui LINE. Di seberang sana ada suara yang sangat saya kenal " Hey, ini aku. Kamu di rumah sekarang? sekitar 15 menit lagi aku ke sana ya. Aku  mau antar Minh ketemu Nasywa ", katanya.  Saya buru-buru mengiyakan dan memberi tahukan Nasywa akan hal tersebut. Nasywa yang sedang makan terlihat berbinar mendengar Minh mau datang. Tapi binar matanya kemudian meredup saya saya bilang " Minh chan mau kesini untuk say goodbye. Ibu Bapaknya sudah selesei sekolah, jadi dia mau pulang ke Vietnam ". Bergegas dia seleseikan makan paginya yang tinggal beberapa suap. Saya pun bergegas melipat futon yang masih tergelar sejak semalam. Sambil beberes saya tanya Nasywa, " Kamu mau kasih kenang-kenangann apa ke Minh chan ?". Dia berfikir sejenak, lalu bergegas ke laci tempat kami menyimpan perlengkapan tempur. Dia ambil plastik プラバン (puraban) yang sudah terpotong sana sini. Dia ambil spidol lalu sret sret, sudah jadi.  D...

ME TIME -- Menghadiahi Diri Sendiri

Setelah berlelah-lelah, bersusah payah ataupun setelah sebuah episode kehidupan bisa dirampungkan dengan baik, seringkali kita merasa patut mendapatkan hadiah. Sayangnya, untuk pencapaian yang bukan sebuah lomba, tak ada siapapun yang berkewajiban memberikan hadiah itu kecuali diri kita sendiri. Seorang Ibu yang setiap hari sibuk dengan anak-anaknya dan perkerjaan rumah yang tak ada habisnya, terkadang ingin memberikan hadiah untuk dirinya sendiri dengan makan indomie pake telor plus rajangan cabe yang cetar, dibuat di tengah malam saat rumah sudah rapi, anak-anak sudah tidur dan suami sudah lelap. Atau saat anak-anak di rumah neneknya, sang Ibu melarikan diri sebentar, 1-2 jam ke salon untuk facial. Dan itu semua disemuat sebagai me time . Me time bisa diartikan sebagai sepotong waktu di sekian panjangnya waktu dimana seseorang bisa melakukan apa yang dia inginkan dan dia menikmatinya. Me time seseorang dengan seseorang yang lain bisa saja berbeda, baik dari segi aktifitas m...

Belajar Membaca sambil WhatsApp-an

Resolusi tahun 2017 ini salah satunya adalah menyiapkan Nasywa pulang ke Indonesia dan sekolah di sana. Salah satu dari sekian banyak persiapan itu adalah, mengajari dia membaca dan menulis huruf abjad dengan aksen Indonesia. Bukan aksen Jepang atau Inggris. R ya harus ribaca ER bukan AR. K harus dibaca KA buka KE. Dan seterusnya. Untungnya Nasywa sudah kenal huruf abjad sejak umur 3 tahun. Memang dari dulu ga diajari membaca juga, cuma dikenalkan huruf saja. ABCD dan seterusnya. Cuma setelah pindah ke sini, huruf-huruf itu jarang dipakai. Waktu dia mulai membaca dan menulis, kira-kira umur 6 tahun, dia cuma fokus belajar membaca dan menulis katakana, hiragana. Kalau diajak belajar baca abjad bilang " Aku kan ga pake itu Ummi.. ." Saya sengaja tidak memaksa juga sih. Melihat beban belajar dia setiap hari yang sudah lumayan. Ditambah harus belajar menulis (menghafal juga ini) huruf kanji, kayaknya kok saya jahat sekali memaksakan dia harus juga belajar membaca bahasa In...